Oleh Erwin FS
Mahmoud Mohieldin,
Managing Director The World Bank menyatakan kesalutannya terhadap
pendidikan Indonesia. Dilihat dari peserta didik yang ada di Indonesia,
jumlahnya merupakan no 4 terbesar di dunia yaitu 53 juta orang. Jumlah
ini hampir sama dengan China, India dan Amerika Serikat. Dan dilihat
dari segi anggaran, besarnya sudah mencapai 20 persen dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mahmoud juga memuji kebijakan
peningkatan sumberdaya manusia pengajar yang dilakukan melalui
sertifikasi guru dengan penentuan standar minimal pendidikan bagi
pengajar.
Besarnya
anggaran pendidikan merupakan syarat yang mesti dipenuhi agar bisa
tercipta pemerataan pendidikan yang akan diikuti pemerataan kualitas
pendidikan. Bisa dibilang, salah satu hal positif dari reformasi di
Indonesia adalah semangat untuk mengalokasikan anggaran untuk
pendidikan yang cukup besar. Sejak tahun 2009 hingga saat ini, anggaran
pendidikan sudah berjumlah sedikitnya 20 persen dari APBN. Anggaran
tahun 2009 berjumlah 207,41 triliun, tahun 2010 berjumlah 209,54
triliun, dan tahun 2011 berjumlah 248 triliun.
Besarnya
alokasi anggaran pendidikan ini patut disyukuri sebagai sebuah upaya
untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Jika dalam perjalanannya
banyak tidak memuaskan berbagai pihak, maka pada dasarnya hal itu sudah
masuk ke dalam bab lain yang butuh penanganan yang fokus. Misalnya
masalah penyelewengan dana BOS (bantuan operasional sekolah) maupun
penyelewengan dalam bentuk lainnya. Sudah ada lembaga lain yang
seharusnya dan akan menangani masalah tersebut.
Masyarakat juga
jangan skeptis dahulu terhadap berbagai berita negatif tentang
penyelewengan anggaran. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah ujian
nasional dan kelulusan siswa yang seolah-olah menutupi berbagai capaian
dari dialokasikannya anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Era
reformasi saat ini kerap memunculkan budaya instan. Baru beberapa tahun
dana pendidikan 20 persen bisa dipenuhi, ekspektasi sudah sangat
tinggi.
Berdasarkan
data Bank Dunia, angka partisipasi kasar pendidikan dasar di Indonesia
pada tahun 2009 adalah 120,82 persen. Artinya penduduk yang mendaftar
di usia pendidikan dasar itu 120,82 persen dari populasi yang berusia
pada level pendidikan dasar. Sementara angka partisipasi pendidikan
menengah untuk tahun yang sama adalah sebesar 79,46 persen. Artinya
sebanyak 79,46 persen penduduk mendaftar di sekolah menengah dari
kelompok populasi yang berusia pada level pendidikan menengah.
Kenaikan
angka partisipasi kasar di level pendidikan dasar juga sejalan dengan
konstitusi yang menitikberatkan pendidikan dasar untuk dibiayai oleh
negara. Dengan anggaran yang cukup besar, maka diharapkan penduduk
Indonesia bisa menikmati dan mengakses pendidikan dasar.
Penekanan
kepada pemerataan akses pendidikan dasar ini, seolah-olah melupakan
kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa maupun melupakan kualitas
output. Untuk itu diterapkan sertifikasi guru agar tercapai standar
pendidikan minimum bagi guru. Dengan demikian, perlahan-lahan terjadi
pemerataan guru dengan pendidikan minimal yang disyaratkan. Hal ini
memang butuh waktu. Namun demikian, kualitas ini tidak hanya prestasi
dalam bentuk nilai ujian saja, tetapi juga karakter yang dibentuk
selama menjalani pendidikan.
Beberapa
waktu lalu, 6-8 Juni 2011, diadakan pertemuan Menteri Pendidikan Asia
Tenggara dan Asia Timur di Bali untuk membahas peningkatan kualitas
pendidikan melalui sistem penilaian dan tolok ukur yang jelas yang
bernama System Assessment and Benchmarking for Education Results
(SABER). Ada pemahaman bersama bahwa kualitas peserta didik ditentukan
oleh sistem penilaian yang baik. Yang menarik dari pertemuan menteri
pendidikan tersebut adalah adanya kesadaran bahwa pendidikan tidak
hanya aspek kognitif saja, akan tetapi juga terkait dengan pembentukan
karakter.
Dengan
terpenuhinya anggaran pendidikan 20 persen dan juga sertifikasi guru
secara bertahap, maka langkah selanjutnya yang seharusnya ditempuh
adalah mengimplementasikan pendidikan berkarakter di sekolah. Menteri
pendidikan telah mencanangkan pendidikan berkarakter pada 2 Mei 2011,
dan juga telah dicanangkan oleh Gubernur Sumbar pada 2010 lalu. Isu
pendidikan berkarakter ini juga berbarengan dengan momentum peringatan
hari kelahiran Pancasila dimana masyarakat mengharapkan penerapan
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan agar berbagai kerusakan moral
yang dirasakan menurunkan kualitas hidup bisa diminimalkan.
Dengan
dukungan anggaran pendidikan yang relatif besar, pemerataan akses
pendidikan diharapkan akan diikuti oleh pembentukan karakter peserta
didik. Saat ini, karakter juga turut membantu kesuksesan peserta didik
di masa depannya. Bagi peserta didik yang berasal dari keluarga tidak
mampu, pembentukan karakter ini juga diharapkan bisa memacu
kesuksesannya di masa depan.
Selain
itu, anggaran pendidikan dan pendidikan berkarakter ini juga akan
mempengaruhi pencapaian dari masterplan percepatan dan perluasan
pembangunan ekonomi indonesia (MP3EI) 2011-2023. Bank Dunia memprediksi
bahwa pada 2025 Indonesia akan setara dengan BRIC (Brazil, Rusia,
India, dan China). Basis dasar untuk tercapainya hal tersebut adalah
sumberdaya manusia terdidik. Belajar dari krisis ekonomi 1998, status
Macan Asia dan Keajaiban Ekonomi di Indonesia menurut Paul Krugman
justru ditopang oleh upah buruh murah. Sehingga pencapaian ekonomi lebih
bertumpu pada keringat. Oleh karena itu, meskipun Indonesia menjadi
tujuan investasi dunia, tanpa didukung ketersediaan dan dukungan
sumberdaya manusia domestik yang berpendidikan dan juga berkarakter,
maka hasilnya hanya akan kembali ke negara investor. ۞
1 Juli 2011
Daftar Bacaan
Suara Pembaruan Online, 6 Juni 2011
Viva News Online, 5 Juni 2011
Kompasiana 6 Juni 2011
Republika Online 5 Juni 2011
JPNN Online, 5 Juni 2011