Oleh Erwin FS
Sudah lama saya tidak menulis. Di
momentum satu Muharam 1435 Hijriyah ini saya coba mengulas isu
kontemporer yang ada. Di pikiran saya, isu yang sedang populer saat ini
adalah masalah tuntutan kenaikan upah minimum regional.
Salah satu alasan Nabi Muhammad SAW
hijrah adalah kuat dan beratnya tekanan dari kelompok-kelompok yang
menentang Nabi Muhammad SAW di Mekkah. Namun demikian, kondisi seperti
itu juga ternyata membuat akidah dan mental umat Islam pada waktu itu
menjadi kuat.
Ketika Hijrah seluruh kaum muslimin bisa
dibilang dalam kondisi SPBU, yaitu “dimulai dari nol ya”. Artinya dari
segi ekonomi tidak ada yang bisa dibanggakan atau dijadikan pegangan.
Namun kebaikan kaum Anshor di Madinah dengan cepat bisa mengubah nasib
mereka. Ini artinya, ada pertolongan Allah SWT dalam membantu memulihkan
kondisi ekonomi kaum Muhajirin.
Selasa, 05 November 2013
Rabu, 02 November 2011
Pasar Tradisional dan Ekonomi
Saat ini, Pasar Raya
Padang sudah sangat padat sekali oleh para pedagang, terutama pedagang
kaki lima. Hal ini menyebabkan terganggunya konsumen untuk berbelanja.
Suasana kurang nyaman menjadi pemandangan sehari-hari.
Padatnya Pasar Raya oleh para pedagang tersebut mengisyaratkan bahwa animo masyarakat untuk berdagang sangat besar, dan jumlah mereka yang berdagang pun banyak. Sayangnya seperti tidak ada tempat yang bisa dijadikan lahan untuk berdagang.
Pasar
Raya menjadi salah satu pilihan yang menarik karena posisinya
strategis dan sudah dikenal oleh banyak orang. Akses kendaraan pun
tergolong mudah. Maka para pedagang pun banyak yang berjualan di sini.
Sayangnya, semakin banyak yang berdagang, muncul ketidaknyamanan bagi
sebagian pedagang. Pasar yang merupakan basis pembentukan modal sosial
dan ekonomi rakyat justru mengalami reduksi nilai.
Berdasarkan data dari kementerian Koperasi dan UKM, pasar tradisional baru tercatat di 160 kabupaten/kota dari 502 kabupaten/kota. Ini artinya kebutuhan pasar sangat banyak. Di Malaysia, satu pasar tradisionalnya melayani 6667 penduduk, sedangkan Indonesia, satu pasar tradisional melayani 19.231 penduduk. Dengan kata lain, di Malaysia satu juta penduduknya dilayani 150 pasar, sedangkan di Indonesia satu juta penduduk dilayani oleh 52 pasar. Meskipun jumlah pasar di Indonesia berjumlah 13.450 unit, tetap masih dibutuhkan penambahan pasar yang baru.
Jumat, 21 Oktober 2011
MP3EI dan Pilihan Kebijakan Ekonomi
Diskursus mengenai
MP3EI (masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi
Indonesia) koridor ekonomi Sumatera masih hangat dibincangkan. Ini
terkait dengan tidak masuknya Sumbar ke dalam koridor ekonomi Sumatera
tersebut. Jika tidak masuk koridor ekonomi, apakah ini berarti hal
negatif? Belum tentu.
Pembangunan
ekonomi pada dasarnya justru menitikberatkan kepada manusia karena
dalam ilmu ekonomi manusia adalah bagian dari faktor produksi. Jika
manusianya sukses, maka itulah tujuan utamanya. Secara sederhana ilmu
ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia memenuhi
kebutuhan hidupnya. Maka kebijakan ekonomi maupun pembangunan ekonomi
adalah bagaimana menjadikan seluruh rakyat mampu memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Apa
yang dibincangkan di MP3EI jika ditelaah kembali justru lebih banyak
menitikberatkan kepada output kegiatan ekonomi berupa komoditi dan
fisik. Output ekonomi ini akan berhasil jika didukung oleh sumberdaya
manusia yang bagus.
Jumat, 05 Agustus 2011
Budaya Organisasi Bank Syariah
Oleh Erwin FS
Perkembangan perbankan syariah yang begitu pesat di Indonesia patut diapresiasi. Perbankan syariah sebagai bagian dari perbankan nasional telah menjadi motor baru penggerak perekonomian nasional. Meskipun dari segi pangsa pasar masih kecil, namun keterlibatannya di tengah masyarakat sudah terasa. Peran bank syariah memajukan sektor riil adalah nilai tambah. Karena ada juga bank konvensional yang justru bermain di sektor keuangan dibanding di sektor riil. Dan ini juga belum tentu salah sepanjang aturan yang ada membolehkannya. Namun demikian, peran intermediasi bank syariah sesungguhnya justru untuk membantu sektor riil berjalan.
Perkembangan perbankan syariah yang begitu pesat di Indonesia patut diapresiasi. Perbankan syariah sebagai bagian dari perbankan nasional telah menjadi motor baru penggerak perekonomian nasional. Meskipun dari segi pangsa pasar masih kecil, namun keterlibatannya di tengah masyarakat sudah terasa. Peran bank syariah memajukan sektor riil adalah nilai tambah. Karena ada juga bank konvensional yang justru bermain di sektor keuangan dibanding di sektor riil. Dan ini juga belum tentu salah sepanjang aturan yang ada membolehkannya. Namun demikian, peran intermediasi bank syariah sesungguhnya justru untuk membantu sektor riil berjalan.
Dengan
adanya kesadaran masyarakat untuk menjalankan ajaran Islam yang lebih
baik, semakin banyak masyarakat menggunakan bank syariah sebagai tempat
menaruh dana, berinvestasi maupun untuk membiayai usahanya. Moral hazard yang terjadi di bank konvensional juga mempengaruhi orang untuk menggunakan jasa bank syariah.
Ada
rasa kenyamanan ketika menempatkan dana di bank syariah. Terbebas dari
riba dan mendapatkan bagi hasil dari investasi yang halal. Dan insya
Allah sumberdaya manusianya relatif terjaga dari aksi moral hazard,
meskipun yang namanya manusia kemungkinan untuk itu akan selalu ada.
Demikian juga ketika menggunakan pembiayaan bank syariah, ada
kenyamanan dan kepastian.
Jumat, 01 Juli 2011
Anggaran Pendidikan, Pendidikan Berkarakter, dan MP3EI
Oleh Erwin FS
Mahmoud Mohieldin, Managing Director The World Bank menyatakan kesalutannya terhadap pendidikan Indonesia. Dilihat dari peserta didik yang ada di Indonesia, jumlahnya merupakan no 4 terbesar di dunia yaitu 53 juta orang. Jumlah ini hampir sama dengan China, India dan Amerika Serikat. Dan dilihat dari segi anggaran, besarnya sudah mencapai 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mahmoud juga memuji kebijakan peningkatan sumberdaya manusia pengajar yang dilakukan melalui sertifikasi guru dengan penentuan standar minimal pendidikan bagi pengajar.
Mahmoud Mohieldin, Managing Director The World Bank menyatakan kesalutannya terhadap pendidikan Indonesia. Dilihat dari peserta didik yang ada di Indonesia, jumlahnya merupakan no 4 terbesar di dunia yaitu 53 juta orang. Jumlah ini hampir sama dengan China, India dan Amerika Serikat. Dan dilihat dari segi anggaran, besarnya sudah mencapai 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mahmoud juga memuji kebijakan peningkatan sumberdaya manusia pengajar yang dilakukan melalui sertifikasi guru dengan penentuan standar minimal pendidikan bagi pengajar.
Besarnya
anggaran pendidikan merupakan syarat yang mesti dipenuhi agar bisa
tercipta pemerataan pendidikan yang akan diikuti pemerataan kualitas
pendidikan. Bisa dibilang, salah satu hal positif dari reformasi di
Indonesia adalah semangat untuk mengalokasikan anggaran untuk
pendidikan yang cukup besar. Sejak tahun 2009 hingga saat ini, anggaran
pendidikan sudah berjumlah sedikitnya 20 persen dari APBN. Anggaran
tahun 2009 berjumlah 207,41 triliun, tahun 2010 berjumlah 209,54
triliun, dan tahun 2011 berjumlah 248 triliun.
Besarnya
alokasi anggaran pendidikan ini patut disyukuri sebagai sebuah upaya
untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Jika dalam perjalanannya
banyak tidak memuaskan berbagai pihak, maka pada dasarnya hal itu sudah
masuk ke dalam bab lain yang butuh penanganan yang fokus. Misalnya
masalah penyelewengan dana BOS (bantuan operasional sekolah) maupun
penyelewengan dalam bentuk lainnya. Sudah ada lembaga lain yang
seharusnya dan akan menangani masalah tersebut.
Masyarakat juga jangan skeptis dahulu terhadap berbagai berita negatif tentang penyelewengan anggaran. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah ujian nasional dan kelulusan siswa yang seolah-olah menutupi berbagai capaian dari dialokasikannya anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Era reformasi saat ini kerap memunculkan budaya instan. Baru beberapa tahun dana pendidikan 20 persen bisa dipenuhi, ekspektasi sudah sangat tinggi.
Masyarakat juga jangan skeptis dahulu terhadap berbagai berita negatif tentang penyelewengan anggaran. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah ujian nasional dan kelulusan siswa yang seolah-olah menutupi berbagai capaian dari dialokasikannya anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Era reformasi saat ini kerap memunculkan budaya instan. Baru beberapa tahun dana pendidikan 20 persen bisa dipenuhi, ekspektasi sudah sangat tinggi.
Berdasarkan
data Bank Dunia, angka partisipasi kasar pendidikan dasar di Indonesia
pada tahun 2009 adalah 120,82 persen. Artinya penduduk yang mendaftar
di usia pendidikan dasar itu 120,82 persen dari populasi yang berusia
pada level pendidikan dasar. Sementara angka partisipasi pendidikan
menengah untuk tahun yang sama adalah sebesar 79,46 persen. Artinya
sebanyak 79,46 persen penduduk mendaftar di sekolah menengah dari
kelompok populasi yang berusia pada level pendidikan menengah.
Kenaikan
angka partisipasi kasar di level pendidikan dasar juga sejalan dengan
konstitusi yang menitikberatkan pendidikan dasar untuk dibiayai oleh
negara. Dengan anggaran yang cukup besar, maka diharapkan penduduk
Indonesia bisa menikmati dan mengakses pendidikan dasar.
Penekanan kepada pemerataan akses pendidikan dasar ini, seolah-olah melupakan kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa maupun melupakan kualitas output. Untuk itu diterapkan sertifikasi guru agar tercapai standar pendidikan minimum bagi guru. Dengan demikian, perlahan-lahan terjadi pemerataan guru dengan pendidikan minimal yang disyaratkan. Hal ini memang butuh waktu. Namun demikian, kualitas ini tidak hanya prestasi dalam bentuk nilai ujian saja, tetapi juga karakter yang dibentuk selama menjalani pendidikan.
Beberapa waktu lalu, 6-8 Juni 2011, diadakan pertemuan Menteri Pendidikan Asia Tenggara dan Asia Timur di Bali untuk membahas peningkatan kualitas pendidikan melalui sistem penilaian dan tolok ukur yang jelas yang bernama System Assessment and Benchmarking for Education Results (SABER). Ada pemahaman bersama bahwa kualitas peserta didik ditentukan oleh sistem penilaian yang baik. Yang menarik dari pertemuan menteri pendidikan tersebut adalah adanya kesadaran bahwa pendidikan tidak hanya aspek kognitif saja, akan tetapi juga terkait dengan pembentukan karakter.
Dengan terpenuhinya anggaran pendidikan 20 persen dan juga sertifikasi guru secara bertahap, maka langkah selanjutnya yang seharusnya ditempuh adalah mengimplementasikan pendidikan berkarakter di sekolah. Menteri pendidikan telah mencanangkan pendidikan berkarakter pada 2 Mei 2011, dan juga telah dicanangkan oleh Gubernur Sumbar pada 2010 lalu. Isu pendidikan berkarakter ini juga berbarengan dengan momentum peringatan hari kelahiran Pancasila dimana masyarakat mengharapkan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan agar berbagai kerusakan moral yang dirasakan menurunkan kualitas hidup bisa diminimalkan.
Dengan dukungan anggaran pendidikan yang relatif besar, pemerataan akses pendidikan diharapkan akan diikuti oleh pembentukan karakter peserta didik. Saat ini, karakter juga turut membantu kesuksesan peserta didik di masa depannya. Bagi peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu, pembentukan karakter ini juga diharapkan bisa memacu kesuksesannya di masa depan.
Selain itu, anggaran pendidikan dan pendidikan berkarakter ini juga akan mempengaruhi pencapaian dari masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi indonesia (MP3EI) 2011-2023. Bank Dunia memprediksi bahwa pada 2025 Indonesia akan setara dengan BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China). Basis dasar untuk tercapainya hal tersebut adalah sumberdaya manusia terdidik. Belajar dari krisis ekonomi 1998, status Macan Asia dan Keajaiban Ekonomi di Indonesia menurut Paul Krugman justru ditopang oleh upah buruh murah. Sehingga pencapaian ekonomi lebih bertumpu pada keringat. Oleh karena itu, meskipun Indonesia menjadi tujuan investasi dunia, tanpa didukung ketersediaan dan dukungan sumberdaya manusia domestik yang berpendidikan dan juga berkarakter, maka hasilnya hanya akan kembali ke negara investor. ۞
1 Juli 2011
Daftar Bacaan
Suara Pembaruan Online, 6 Juni 2011
Viva News Online, 5 Juni 2011
Kompasiana 6 Juni 2011
Republika Online 5 Juni 2011
JPNN Online, 5 Juni 2011
Minggu, 12 Juni 2011
Tukang Sihir Firaun
Oleh Erwin FS
Meskipun Firaun mengaku sebagai tuhan, namun karena keterbatasannya sebagai manusia, maka dikerahkanlah para tukang sihir untuk melawan Nabi Musa as. Mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Musa as di antaranya adalah tongkat yang bisa berubah menjadi ular. Ketika Firaun mengetahui tentang hal ini, maka dikerahkanlah seluruh tukang sihir di wilayah kekuasaannya untuk menghadapi Nabi Musa as.
Firaun menjanjikan imbalan berupa kedudukan yang dekat dengannya kepada tukang sihir yang akan menghadapi Nabi Musa as. Ketika bertemu antara Nabi Musa as dengan tukang sihir Firaun, Musa meminta para tukang sihir itu melempar apa yang akan dilemparkan tukang sihir kepada Nabi Musa as. Lalu tukang sihir itu melempar tali-temali dan tongkat yang seolah-olah berubah menjadi ular. Maka Nabi Musa as melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular sebenarnya serta memakan tali-temali dan tongkat tukang sihir.
Ketika tukang sihir menyadari bahwa tongkat Nabi Musa as yang berubah menjadi ular sebenarnya adalah mukjizat, maka mereka mengucapkan, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam (yaitu) Tuhannya Musa dan Harun” (QS 26: 47-48). Lalu Firaun berkata, “Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti akan kupotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, akan kusalib kamu semuanya” (QS 26:49).
Para tukang sihir itu menjawab, “Tidak ada yang kami takutkan, karena kami akan kembali kepada Tuhan kami. Sesungguhnya kami sangat menginginkan sekiranya Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami menjadi orang yang pertama-tama beriman” (QS 26: 50-51).
Setiap Nabi membawa mukjizat yang sesuai dengan kondisi umatnya. Apa yang dibawa Nabi Musa as akan berbeda dengan yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Para tukang sihir yang tergolong profesional di zaman Nabi Musa bisa langsung mengetahui bahwa tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular adalah sebuah mukjizat, bukan sihir. Demikian pula yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad. Mukjizat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah Al Quran.
Wahyu yang pertama turun adalah perintah membaca. Dan bagi siapa saja yang membaca Al Quran ini, maka mereka akan mengalami seperti tukang sihir, meyakini bahwa Al Quran yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW adalah bukan sembarang bacaan. Kita bisa melihat bahwa di Eropa akibat semakin banyaknya orang yang membaca Al Quran, terutama terjemahannya, mereka lalu menyatakan kesaksiannya sebagai seorang muslim di mana sebelumnya mereka adalah non muslim.
Mukjizat Al Quran akan bisa diimplementasikan bila umat Islam memiliki interaksi yang baik dengan Al Quran, membacanya secara rutin, mengetahui terjemahannya, memahami isinya, dan mengamalkan perintah serta menjauhi larangan yang tertulis di dalamnya.
Secara umum, rutin membaca terjemahannya saja sudah merupakan bentuk interaksi yang bagus. Menjadikan terjemahan Al Quran sebagai bacaan wajib merupakan bentuk dari mengimani Al Quran bagi umat Islam. Bagi kalangan di luar Islam, membaca terjemahan Al Quran adalah bagian dari memenuhi rasa keingintahuan yang menggebu. Ada yang masuk ke dalam Islam setelahnya, namun ada juga yang sekedar mengagumi isinya dan bahkan menjadikan bahan perang pemikiran karena diketahui umat Islam masih minim interaksinya dengan Al Quran.
Orang-orang yang sekualitas tukang sihir Firaun, yang profesional di bidangnya, ketika menghadapi apa yang dibawa Nabi Musa as dan kemudian beriman, adalah contoh nyata bagaimana orang yang ahli di bidang tertentu ketika suatu saat menghadapi sebuah mukjizat akan bersujud kepada Tuhan yang menciptakannya.
Demikian pula dengan Al Quran, siapa yang berinteraksi dengannya akan merasakan kenikmatan luar biasa baik berupa bahasa yang ada di dalamnya maupun mengikuti cerita masa lalu dan akan datang bagi kaum yang mematuhi maupun melanggar aturan Allah SWT maupun ilmu pengetahuan yang disampaikan. Sayangnya, masih sangat sedikit umat Islam berusaha untuk membaca terjemahan Al Quran secara rutin sehingga budaya yang muncul di tengah mereka adalah paham serba boleh di mana dampak negatif dari melanggar larangan Allah SWT itu tidak bisa dibendung oleh institusi keluarga maupun masyarakat.
Kondisi saat ini, begitu banyak “tukang sihir” yang berusaha menjalankan perintah “Firaun” di mana “tukang sihir” itu belum mendapatkan hidayah untuk beriman kepada Allah SWT. Di sisi lain, wahyu pertama berupa perintah membaca belum dijalankan maksimal oleh umat Islam, apalagi membaca terjemahan Al Quran yang seharusnya menjadi bacaan wajib yang seharusnya dibaca rutin.
Mari lindungi diri dan keluarga kita dari sihir-sihir yang menjauhkan kita dari Allah, dan sebaliknya mari mulai membaca Al Quran melalui terjemahannya agar kita tidak mengalami disorientasi dalam meniti hidup ini dan sekaligus bisa menjadi pemimpin yang tangguh di lingkungan terdekat kita. ۞
12 Juni 2011
Jika ada
manusia di dunia ini yang mengaku sebagai Tuhan, maka salah satunya
adalah Firaun. “Dia (Firaun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah
Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara” (QS 26:
29). Pada zamannya, Firaun memiliki kekuatan memimpin yang luar biasa.
Anak laki-laki dari Bani Israil disembelih, sementara anak perempuan
dibiarkan hidup.
Namun
Allah menyelamatkan Nabi Musa as dari kekejaman Firaun, hingga ia
menyampaikan ajakan kepada Firaun untuk menyembah Allah SWT. Namun
Firaun menjawab seruan itu dengan mengatakan kepada penduduk, “Sungguh
Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila” (QS 26:27).
Meskipun Firaun mengaku sebagai tuhan, namun karena keterbatasannya sebagai manusia, maka dikerahkanlah para tukang sihir untuk melawan Nabi Musa as. Mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Musa as di antaranya adalah tongkat yang bisa berubah menjadi ular. Ketika Firaun mengetahui tentang hal ini, maka dikerahkanlah seluruh tukang sihir di wilayah kekuasaannya untuk menghadapi Nabi Musa as.
Firaun menjanjikan imbalan berupa kedudukan yang dekat dengannya kepada tukang sihir yang akan menghadapi Nabi Musa as. Ketika bertemu antara Nabi Musa as dengan tukang sihir Firaun, Musa meminta para tukang sihir itu melempar apa yang akan dilemparkan tukang sihir kepada Nabi Musa as. Lalu tukang sihir itu melempar tali-temali dan tongkat yang seolah-olah berubah menjadi ular. Maka Nabi Musa as melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular sebenarnya serta memakan tali-temali dan tongkat tukang sihir.
Ketika tukang sihir menyadari bahwa tongkat Nabi Musa as yang berubah menjadi ular sebenarnya adalah mukjizat, maka mereka mengucapkan, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam (yaitu) Tuhannya Musa dan Harun” (QS 26: 47-48). Lalu Firaun berkata, “Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti akan kupotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, akan kusalib kamu semuanya” (QS 26:49).
Para tukang sihir itu menjawab, “Tidak ada yang kami takutkan, karena kami akan kembali kepada Tuhan kami. Sesungguhnya kami sangat menginginkan sekiranya Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami menjadi orang yang pertama-tama beriman” (QS 26: 50-51).
Setiap Nabi membawa mukjizat yang sesuai dengan kondisi umatnya. Apa yang dibawa Nabi Musa as akan berbeda dengan yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Para tukang sihir yang tergolong profesional di zaman Nabi Musa bisa langsung mengetahui bahwa tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular adalah sebuah mukjizat, bukan sihir. Demikian pula yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad. Mukjizat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah Al Quran.
Wahyu yang pertama turun adalah perintah membaca. Dan bagi siapa saja yang membaca Al Quran ini, maka mereka akan mengalami seperti tukang sihir, meyakini bahwa Al Quran yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW adalah bukan sembarang bacaan. Kita bisa melihat bahwa di Eropa akibat semakin banyaknya orang yang membaca Al Quran, terutama terjemahannya, mereka lalu menyatakan kesaksiannya sebagai seorang muslim di mana sebelumnya mereka adalah non muslim.
Lalu,
bagaimana dengan umat Islam sendiri? Adakah mereka rutin membaca Al
Quran dan juga terjemahannya? Atau membaca tafsir dan ayat-ayat Al
Quran?
Mukjizat Al Quran akan bisa diimplementasikan bila umat Islam memiliki interaksi yang baik dengan Al Quran, membacanya secara rutin, mengetahui terjemahannya, memahami isinya, dan mengamalkan perintah serta menjauhi larangan yang tertulis di dalamnya.
Secara umum, rutin membaca terjemahannya saja sudah merupakan bentuk interaksi yang bagus. Menjadikan terjemahan Al Quran sebagai bacaan wajib merupakan bentuk dari mengimani Al Quran bagi umat Islam. Bagi kalangan di luar Islam, membaca terjemahan Al Quran adalah bagian dari memenuhi rasa keingintahuan yang menggebu. Ada yang masuk ke dalam Islam setelahnya, namun ada juga yang sekedar mengagumi isinya dan bahkan menjadikan bahan perang pemikiran karena diketahui umat Islam masih minim interaksinya dengan Al Quran.
Orang-orang yang sekualitas tukang sihir Firaun, yang profesional di bidangnya, ketika menghadapi apa yang dibawa Nabi Musa as dan kemudian beriman, adalah contoh nyata bagaimana orang yang ahli di bidang tertentu ketika suatu saat menghadapi sebuah mukjizat akan bersujud kepada Tuhan yang menciptakannya.
Demikian pula dengan Al Quran, siapa yang berinteraksi dengannya akan merasakan kenikmatan luar biasa baik berupa bahasa yang ada di dalamnya maupun mengikuti cerita masa lalu dan akan datang bagi kaum yang mematuhi maupun melanggar aturan Allah SWT maupun ilmu pengetahuan yang disampaikan. Sayangnya, masih sangat sedikit umat Islam berusaha untuk membaca terjemahan Al Quran secara rutin sehingga budaya yang muncul di tengah mereka adalah paham serba boleh di mana dampak negatif dari melanggar larangan Allah SWT itu tidak bisa dibendung oleh institusi keluarga maupun masyarakat.
Kondisi saat ini, begitu banyak “tukang sihir” yang berusaha menjalankan perintah “Firaun” di mana “tukang sihir” itu belum mendapatkan hidayah untuk beriman kepada Allah SWT. Di sisi lain, wahyu pertama berupa perintah membaca belum dijalankan maksimal oleh umat Islam, apalagi membaca terjemahan Al Quran yang seharusnya menjadi bacaan wajib yang seharusnya dibaca rutin.
Mari lindungi diri dan keluarga kita dari sihir-sihir yang menjauhkan kita dari Allah, dan sebaliknya mari mulai membaca Al Quran melalui terjemahannya agar kita tidak mengalami disorientasi dalam meniti hidup ini dan sekaligus bisa menjadi pemimpin yang tangguh di lingkungan terdekat kita. ۞
12 Juni 2011
Minggu, 29 Mei 2011
Makna Penaklukan Konstatinopel
Oleh Erwin FS
Lord Kinross mengutip Bertrand de Broquiere, seorang pengembara yang menyatakan, “Pasukan Utsmani sangat cepat gerakannya. Seratus pasukan musuh akan jauh lebih gaduh dari sepuluh ribu pasukan Utsmani. Dalam semalam mereka mampu melakukan tiga kali lipat perjalanan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya” (Ash-Shalabi, 2008).
Semenjak wafatnya Rasulullah SAW, setiap orang selalu bertanya-tanya, siapa yang bisa melaksanakan sabda Rasulullah SAW tersebut. Semenjak era kehalifahan Bani Umayyah di tahun 44 Hijriah sudah dilakukan usaha untuk menaklukan Konstatinopel. Kemudian berlanjut di masa kekhalifahan Bani Abbasiyah. Hingga kemudian Konstatinopel bisa ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al Fatih yang merupakan khalifah Bani Utsmani pada tanggal 29 Mei 1453 Masehi atau 20 Jumadil Ula 857 Hijriah, sekitar 800 tahun setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Pada masa itu, Konstatinopel merupakan salah satu kota terbesar dan terpenting di dunia. Konstatinopel dibangun pada tahun 330 Masehi. Muncul ungkapan, “Andai kata dunia ini berbentuk satu kerajaan, maka Konstatinopel akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibu kotanya” (Mushtafa dalam Ash-Shalabi, 2008).
Sultan Muhammad II atau Sultan Muhammad Al Fatih memegang jabatan pada umur 22 tahun. Pada usia muda ia telah mengungguli teman-temannya dalam menangkap dan menyerap ilmu pengetahuan. Ia menguasai manajemen dan administrasi negara, penguasaan medan dan strategi perang. Ia melakukan restrukturisasi administrasi negara dan keuangan negara. Pembelanjaan dilakukan secara efektif dan efisien untuk mencegah terjadinya pemborosan dan pembobolan uang negara. Ia juga berkonsentrasi meningkatkan kepiawaian pasukan, melakukan restrukturisasi tentara, memberikan tambahan gaji pada tentara dan melengkapi persenjataan terbaik di zamannya (Ash-Shalabi, 2008).
Di samping itu, Muhammad Al Fatih menjalani didikan oleh ulama dengan baik. Ia mengikuti didikan dari ulama sejak kecil. Guru-gurunya memiliki kebersihan hati hingga mampu menjadikan Sultan Muhammad II mendapatkan pengalaman relijius yang sangat baik. Salah seorang gurunya yang berpengaruh adalah Rabbani Ahmad bin Ismail Al-Kurani. Hingga Muhammad Al Fatih menjadi pemimpin, Al Kurani tidak pernah menundukkan kepala maupun mencium tangan Muhammad Al Fatih, bahkan memanggil dengan nama asli, bukan gelar. Sementara gurunya yang lain Syaikh Aaq Syamsuddin telah menanamkan kepada Muhammad Al Fatih sejak kecil bahwa yang dimaksud oleh Hadits Nabi Muhammad SAW tentang penakluk Konstatinopel adalah dirinya (Ash-Shalabi, 2008).
Dengan harapan bahwa yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW itu adalah tentaranya, maka Muhamad Al Fatih meningkatkan dan memperkuat jumlah tentaranya. Pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan kemahiran menggunakan senjata sangat diperhatikannya. Di samping itu tentarannya juga dibekali semangat keIslaman dan selalu disampaikan tentang Hadits Nabi Muhammad SAW mengenai sebaik-baik tentara. Muhammad Al Fatih mengerahkan banyak ulama untuk meninggikan moralitas keIslaman pasukannya. Muhammad Al Fatih telah memadukan infrastruktur perang yang mutakhir dan strategi canggih dengan moralitas keIslaman yang tinggi pada pasukannya.
Pada masa itu, Konstatinopel secara militer merupakan kota yang paling aman dan terlindungi. Ia memiliki benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. Sangat sulit untuk menaklukkan kota tersebut. Hingga salah satu titik lemah tersebut berhasil ditembus oleh Sultan Muhammad Al Fatih secara mengejutkan.
Salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium (Konstatinopel) menyatakan, “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang. Sungguh perbuatannya ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar yang Agung” (Ash-Shalabi, 2008). Pada waktu itu, Muhammad Al Fatih memindahkan kapal-kapal perangnya melalui daratan, sesuatu yang belum pernah terjadi di masa itu. Ini adalah titik awal menjelang takluknya Konstatinopel.
Tanggal 29 Mei 1453 Masehi, Sultan Muhammad Al Fatih berhasil memasuki Konstatinopel. Seluruh masyarakat di kota tersebut diperlakukan dengan baik. Mereka dipersilakan melakukan kegiatan keagamaan maupun kesehariannya. Tidak ada pembunuhan massal. Uskup Agnadius dan uskup-uskup yang diundang makan oleh Sultan Muhammad Al Fatih, setelah bertemu dengan Sultan mendapatkan persepsi berbeda yang selama ini ada tentang Sultan. Mereka merasa berhadapan dengan seorang sultan yang demikian terdidik dan berperadaban, seorang ksatria sejati yang membawa nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sebelumnya sudah terbayang akan terjadi pembunuhan massal oleh tentara Utsmani. Dan dalam hitungan hari sejak ditaklukan, Konstatinopel telah melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana biasa.
Pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini adalah, bahwa bagi seorang muslim agar bisa berhasil kehidupannya tidak lain mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Pembinaan pribadi muslim yang berhasil adalah memadukan kemampuan intelektual, fisik dengan semangat keIslaman yang tinggi. Sultan Muhammad Al Fatih dan tentaranya telah mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Termasuk memperlakukan penduduk di daerah penaklukan dengan baik dan menghormati hak-hak mereka. Tidak terjadi pembunuhan massal seperti yang dibayangkan oleh penduduk Konstatinopel, bahkan Muhammad Al Fatih dan tentaranya memperlakukan manusia di sana dengan baik, hormat dan santun.
Meskipun sudah lebih dari 500 tahun lalu terjadi, peristiwa penaklukkan Konstatinopel sungguh sangat berharga bagi umat Islam untuk mempelajari berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya, terutama bagaimana membentuk sumberdaya manusia yang unggul dengan memperhatikan aspek spiritualitas.
Saat ini begitu banyak umat Islam melupakan aspek spiritualitas mereka sehingga kualitas kehidupan terasa kurang menggembirakan. Jauh dari ajaran agama, hanya berlomba mencari kehidupan dunia. Nabi Muhammad SAW telah meninggalkan Al Quran dan Sunnah yang berisi pembinaan sumberdaya manusia yang unggul. Siapa saja yang mengikuti metode tersebut, insya Allah akan mendapatkan kebaikan dan kesuksesan.
Meskipun saat ini umat Islam berjarak 1400 tahun lebih dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW, pola pembinaan sumberdaya manusia tetap bisa diikuti dengan berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah. Sultan Muhammad Al Fatih yang hidup 800 tahun sejak hijrah Rasulullah SAW telah membuktikan hal tersebut bersama rakyat dan tentaranya. Dan kini, dengan kecanggihan teknologi dan kemudahan hidup, seharusnya kualitas umat Islam bisa jauh lebih baik dan unggul. ۞
29 Mei 2011
Daftar Pustaka
Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Pustaka Al Kautsar, Jakarta: 2008
Nabi
Muhammad SAW bersabda saat terjadi perang Khandaq (Ash-Shalabi, 2008),
“Konstatinopel akan ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka
orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan
tentaranya adalah sebaik-baik tentara” (HR Ahmad). Apa yang disampaikan
Nabi Muhammad SAW ini terbukti sekitar 800 tahun kemudian.
Nabi
Muhammad SAW menyebut penaklukan Konstatinopel ini kepada para sahabat
dan kaum muslimin pada waktu itu, bermakna ada hal yang istimewa
terjadi dengan penaklukan tersebut. Di dalam hadits yang telah
disebutkan, ada sebutan ‘sebaik-baik penguasa’ dan ‘sebaik-baik
tentara’. Dan kedua hal itu kelak ada di diri Sultan Muhammad Al Fatih
dan pasukannya yang berasal dari Bani Utsmani.
Lord Kinross mengutip Bertrand de Broquiere, seorang pengembara yang menyatakan, “Pasukan Utsmani sangat cepat gerakannya. Seratus pasukan musuh akan jauh lebih gaduh dari sepuluh ribu pasukan Utsmani. Dalam semalam mereka mampu melakukan tiga kali lipat perjalanan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya” (Ash-Shalabi, 2008).
Semenjak wafatnya Rasulullah SAW, setiap orang selalu bertanya-tanya, siapa yang bisa melaksanakan sabda Rasulullah SAW tersebut. Semenjak era kehalifahan Bani Umayyah di tahun 44 Hijriah sudah dilakukan usaha untuk menaklukan Konstatinopel. Kemudian berlanjut di masa kekhalifahan Bani Abbasiyah. Hingga kemudian Konstatinopel bisa ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al Fatih yang merupakan khalifah Bani Utsmani pada tanggal 29 Mei 1453 Masehi atau 20 Jumadil Ula 857 Hijriah, sekitar 800 tahun setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Pada masa itu, Konstatinopel merupakan salah satu kota terbesar dan terpenting di dunia. Konstatinopel dibangun pada tahun 330 Masehi. Muncul ungkapan, “Andai kata dunia ini berbentuk satu kerajaan, maka Konstatinopel akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibu kotanya” (Mushtafa dalam Ash-Shalabi, 2008).
Sultan Muhammad II atau Sultan Muhammad Al Fatih memegang jabatan pada umur 22 tahun. Pada usia muda ia telah mengungguli teman-temannya dalam menangkap dan menyerap ilmu pengetahuan. Ia menguasai manajemen dan administrasi negara, penguasaan medan dan strategi perang. Ia melakukan restrukturisasi administrasi negara dan keuangan negara. Pembelanjaan dilakukan secara efektif dan efisien untuk mencegah terjadinya pemborosan dan pembobolan uang negara. Ia juga berkonsentrasi meningkatkan kepiawaian pasukan, melakukan restrukturisasi tentara, memberikan tambahan gaji pada tentara dan melengkapi persenjataan terbaik di zamannya (Ash-Shalabi, 2008).
Di samping itu, Muhammad Al Fatih menjalani didikan oleh ulama dengan baik. Ia mengikuti didikan dari ulama sejak kecil. Guru-gurunya memiliki kebersihan hati hingga mampu menjadikan Sultan Muhammad II mendapatkan pengalaman relijius yang sangat baik. Salah seorang gurunya yang berpengaruh adalah Rabbani Ahmad bin Ismail Al-Kurani. Hingga Muhammad Al Fatih menjadi pemimpin, Al Kurani tidak pernah menundukkan kepala maupun mencium tangan Muhammad Al Fatih, bahkan memanggil dengan nama asli, bukan gelar. Sementara gurunya yang lain Syaikh Aaq Syamsuddin telah menanamkan kepada Muhammad Al Fatih sejak kecil bahwa yang dimaksud oleh Hadits Nabi Muhammad SAW tentang penakluk Konstatinopel adalah dirinya (Ash-Shalabi, 2008).
Dengan harapan bahwa yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW itu adalah tentaranya, maka Muhamad Al Fatih meningkatkan dan memperkuat jumlah tentaranya. Pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan kemahiran menggunakan senjata sangat diperhatikannya. Di samping itu tentarannya juga dibekali semangat keIslaman dan selalu disampaikan tentang Hadits Nabi Muhammad SAW mengenai sebaik-baik tentara. Muhammad Al Fatih mengerahkan banyak ulama untuk meninggikan moralitas keIslaman pasukannya. Muhammad Al Fatih telah memadukan infrastruktur perang yang mutakhir dan strategi canggih dengan moralitas keIslaman yang tinggi pada pasukannya.
Pada masa itu, Konstatinopel secara militer merupakan kota yang paling aman dan terlindungi. Ia memiliki benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. Sangat sulit untuk menaklukkan kota tersebut. Hingga salah satu titik lemah tersebut berhasil ditembus oleh Sultan Muhammad Al Fatih secara mengejutkan.
Salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium (Konstatinopel) menyatakan, “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang. Sungguh perbuatannya ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar yang Agung” (Ash-Shalabi, 2008). Pada waktu itu, Muhammad Al Fatih memindahkan kapal-kapal perangnya melalui daratan, sesuatu yang belum pernah terjadi di masa itu. Ini adalah titik awal menjelang takluknya Konstatinopel.
Tanggal 29 Mei 1453 Masehi, Sultan Muhammad Al Fatih berhasil memasuki Konstatinopel. Seluruh masyarakat di kota tersebut diperlakukan dengan baik. Mereka dipersilakan melakukan kegiatan keagamaan maupun kesehariannya. Tidak ada pembunuhan massal. Uskup Agnadius dan uskup-uskup yang diundang makan oleh Sultan Muhammad Al Fatih, setelah bertemu dengan Sultan mendapatkan persepsi berbeda yang selama ini ada tentang Sultan. Mereka merasa berhadapan dengan seorang sultan yang demikian terdidik dan berperadaban, seorang ksatria sejati yang membawa nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sebelumnya sudah terbayang akan terjadi pembunuhan massal oleh tentara Utsmani. Dan dalam hitungan hari sejak ditaklukan, Konstatinopel telah melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana biasa.
Pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini adalah, bahwa bagi seorang muslim agar bisa berhasil kehidupannya tidak lain mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Pembinaan pribadi muslim yang berhasil adalah memadukan kemampuan intelektual, fisik dengan semangat keIslaman yang tinggi. Sultan Muhammad Al Fatih dan tentaranya telah mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Termasuk memperlakukan penduduk di daerah penaklukan dengan baik dan menghormati hak-hak mereka. Tidak terjadi pembunuhan massal seperti yang dibayangkan oleh penduduk Konstatinopel, bahkan Muhammad Al Fatih dan tentaranya memperlakukan manusia di sana dengan baik, hormat dan santun.
Meskipun sudah lebih dari 500 tahun lalu terjadi, peristiwa penaklukkan Konstatinopel sungguh sangat berharga bagi umat Islam untuk mempelajari berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya, terutama bagaimana membentuk sumberdaya manusia yang unggul dengan memperhatikan aspek spiritualitas.
Saat ini begitu banyak umat Islam melupakan aspek spiritualitas mereka sehingga kualitas kehidupan terasa kurang menggembirakan. Jauh dari ajaran agama, hanya berlomba mencari kehidupan dunia. Nabi Muhammad SAW telah meninggalkan Al Quran dan Sunnah yang berisi pembinaan sumberdaya manusia yang unggul. Siapa saja yang mengikuti metode tersebut, insya Allah akan mendapatkan kebaikan dan kesuksesan.
Meskipun saat ini umat Islam berjarak 1400 tahun lebih dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW, pola pembinaan sumberdaya manusia tetap bisa diikuti dengan berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah. Sultan Muhammad Al Fatih yang hidup 800 tahun sejak hijrah Rasulullah SAW telah membuktikan hal tersebut bersama rakyat dan tentaranya. Dan kini, dengan kecanggihan teknologi dan kemudahan hidup, seharusnya kualitas umat Islam bisa jauh lebih baik dan unggul. ۞
29 Mei 2011
Daftar Pustaka
Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Pustaka Al Kautsar, Jakarta: 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
Recent Post
Dilema Inklusi Keuangan di Indonesia
Oleh Erwin FS Bank Dunia merilis data terkait inklusi keuangan (Kompas, 17/4/2015), pada rentang 2011-2014 700 juta orang di dunia men...
Popular Post
-
Oleh Erwin FS Abstrak Perkembangan bank syariah termasuk cukup pesat, terutama setelah tahun 1998, namun dilihat dari segi aset masih...
-
Oleh Erwin FS Dalam Muqadimah Ibnu Khaldun, diceritakan bahwa sahabat berujar “Rasulullah merelakan Abu Bakar mengurusi urusan agama, ...
-
Oleh Erwin FS Jika ada manusia di dunia ini yang mengaku sebagai Tuhan, maka salah satunya adalah Firaun. “Dia (Firaun) berkata, “...






