Jumat, 01 Juli 2011

Anggaran Pendidikan, Pendidikan Berkarakter, dan MP3EI

Oleh Erwin FS

Mahmoud Mohieldin, Managing Director The World Bank menyatakan kesalutannya terhadap pendidikan Indonesia. Dilihat dari peserta didik yang ada di Indonesia, jumlahnya merupakan no 4 terbesar di dunia yaitu 53 juta orang. Jumlah ini hampir sama dengan China, India dan Amerika Serikat. Dan dilihat dari segi anggaran, besarnya sudah mencapai 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mahmoud juga memuji kebijakan peningkatan sumberdaya manusia pengajar yang dilakukan melalui sertifikasi guru dengan penentuan standar minimal pendidikan bagi pengajar.
Besarnya anggaran pendidikan merupakan syarat yang mesti dipenuhi agar bisa tercipta pemerataan pendidikan yang akan diikuti pemerataan kualitas pendidikan. Bisa dibilang, salah satu hal positif dari reformasi di Indonesia adalah semangat untuk mengalokasikan anggaran untuk pendidikan yang cukup besar. Sejak tahun 2009 hingga saat ini, anggaran pendidikan sudah berjumlah sedikitnya 20 persen dari APBN. Anggaran tahun 2009 berjumlah 207,41 triliun, tahun 2010 berjumlah 209,54 triliun, dan tahun 2011 berjumlah 248 triliun.
Besarnya alokasi anggaran pendidikan ini patut disyukuri sebagai sebuah upaya untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. Jika dalam perjalanannya banyak tidak memuaskan berbagai pihak, maka pada dasarnya hal itu sudah masuk ke dalam bab lain yang butuh penanganan yang fokus. Misalnya masalah penyelewengan dana BOS (bantuan operasional sekolah) maupun penyelewengan dalam bentuk lainnya. Sudah ada lembaga lain yang seharusnya dan akan menangani masalah tersebut.

Masyarakat juga jangan skeptis dahulu terhadap berbagai berita negatif tentang penyelewengan anggaran. Apalagi jika dikaitkan dengan masalah ujian nasional dan kelulusan siswa yang seolah-olah menutupi berbagai capaian dari dialokasikannya anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Era reformasi saat ini kerap memunculkan budaya instan. Baru beberapa tahun dana pendidikan 20 persen bisa dipenuhi, ekspektasi sudah sangat tinggi.
Berdasarkan data Bank Dunia, angka partisipasi kasar pendidikan dasar di Indonesia pada tahun 2009 adalah 120,82 persen. Artinya penduduk yang mendaftar di usia pendidikan dasar itu 120,82 persen dari populasi yang berusia pada level pendidikan dasar. Sementara angka partisipasi pendidikan menengah untuk tahun yang sama adalah sebesar 79,46 persen. Artinya sebanyak 79,46 persen penduduk mendaftar di sekolah menengah dari kelompok populasi yang berusia pada level pendidikan menengah.
Kenaikan angka partisipasi kasar di level pendidikan dasar juga sejalan dengan konstitusi yang menitikberatkan pendidikan dasar untuk dibiayai oleh negara. Dengan anggaran yang cukup besar, maka diharapkan penduduk Indonesia bisa menikmati dan mengakses pendidikan dasar.

Penekanan kepada pemerataan akses pendidikan dasar ini, seolah-olah melupakan kualitas pendidikan yang diterima oleh siswa maupun melupakan kualitas output. Untuk itu diterapkan sertifikasi guru agar tercapai standar pendidikan minimum bagi guru. Dengan demikian, perlahan-lahan terjadi pemerataan guru dengan pendidikan minimal yang disyaratkan. Hal ini memang butuh waktu. Namun demikian, kualitas ini tidak hanya prestasi dalam bentuk nilai ujian saja, tetapi juga karakter yang dibentuk selama menjalani pendidikan.

Beberapa waktu lalu, 6-8 Juni 2011, diadakan pertemuan Menteri Pendidikan Asia Tenggara dan Asia Timur di Bali untuk membahas peningkatan kualitas pendidikan melalui sistem penilaian dan tolok ukur yang jelas yang bernama System Assessment and Benchmarking for Education Results (SABER). Ada pemahaman bersama bahwa kualitas peserta didik ditentukan oleh sistem penilaian yang baik. Yang menarik dari pertemuan menteri pendidikan tersebut adalah adanya kesadaran bahwa pendidikan tidak hanya aspek kognitif saja, akan tetapi juga terkait dengan pembentukan karakter.

Dengan terpenuhinya anggaran pendidikan 20 persen dan juga sertifikasi guru secara bertahap, maka langkah selanjutnya yang seharusnya ditempuh adalah mengimplementasikan pendidikan berkarakter di sekolah. Menteri pendidikan telah mencanangkan pendidikan berkarakter pada 2 Mei 2011, dan juga telah dicanangkan oleh Gubernur Sumbar pada 2010 lalu. Isu pendidikan berkarakter ini juga berbarengan dengan momentum peringatan hari kelahiran Pancasila dimana masyarakat mengharapkan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan agar berbagai kerusakan moral yang dirasakan menurunkan kualitas hidup bisa diminimalkan.

Dengan dukungan anggaran pendidikan yang relatif besar, pemerataan akses pendidikan diharapkan akan diikuti oleh pembentukan karakter peserta didik. Saat ini, karakter juga turut membantu kesuksesan peserta didik di masa depannya. Bagi peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu, pembentukan karakter ini juga diharapkan bisa memacu kesuksesannya di masa depan.

Selain itu, anggaran pendidikan dan pendidikan berkarakter ini juga akan mempengaruhi pencapaian dari masterplan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi indonesia (MP3EI) 2011-2023. Bank Dunia memprediksi bahwa pada 2025 Indonesia akan setara dengan BRIC (Brazil, Rusia, India, dan China). Basis dasar untuk tercapainya hal tersebut adalah sumberdaya manusia terdidik. Belajar dari krisis ekonomi 1998, status Macan Asia dan Keajaiban Ekonomi di Indonesia menurut Paul Krugman justru ditopang oleh upah buruh murah. Sehingga pencapaian ekonomi lebih bertumpu pada keringat. Oleh karena itu, meskipun Indonesia menjadi tujuan investasi dunia, tanpa didukung ketersediaan dan dukungan sumberdaya manusia domestik yang berpendidikan dan juga berkarakter, maka hasilnya hanya akan kembali ke negara investor. ۞

1 Juli 2011

Daftar Bacaan
Suara Pembaruan Online, 6 Juni 2011
Viva News Online, 5 Juni 2011
Kompasiana 6 Juni 2011
Republika Online 5 Juni 2011
JPNN Online, 5 Juni 2011

Minggu, 12 Juni 2011

Tukang Sihir Firaun

Oleh Erwin FS


Jika ada manusia di dunia ini yang mengaku sebagai Tuhan, maka salah satunya adalah Firaun. “Dia (Firaun) berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara” (QS 26: 29). Pada zamannya, Firaun memiliki kekuatan memimpin yang luar biasa. Anak laki-laki dari Bani Israil disembelih, sementara anak perempuan dibiarkan hidup.
Namun Allah menyelamatkan Nabi Musa as dari kekejaman Firaun, hingga ia menyampaikan ajakan kepada Firaun untuk menyembah Allah SWT. Namun Firaun menjawab seruan itu dengan mengatakan kepada penduduk, “Sungguh Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila” (QS 26:27).

Meskipun Firaun mengaku sebagai tuhan, namun karena keterbatasannya sebagai manusia, maka dikerahkanlah para tukang sihir untuk melawan Nabi Musa as. Mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Musa as di antaranya adalah tongkat yang bisa berubah menjadi ular. Ketika Firaun mengetahui tentang hal ini, maka dikerahkanlah seluruh tukang sihir di wilayah kekuasaannya untuk menghadapi Nabi Musa as. 

Firaun menjanjikan imbalan berupa kedudukan yang dekat dengannya kepada tukang sihir yang akan menghadapi Nabi Musa as. Ketika bertemu antara Nabi Musa as dengan tukang sihir Firaun, Musa meminta para tukang sihir itu melempar apa yang akan dilemparkan tukang sihir kepada Nabi Musa as. Lalu tukang sihir itu melempar tali-temali dan tongkat yang seolah-olah berubah menjadi ular. Maka Nabi Musa as melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular sebenarnya serta memakan tali-temali dan tongkat tukang sihir.

Ketika tukang sihir menyadari bahwa tongkat Nabi Musa as yang berubah menjadi ular sebenarnya adalah mukjizat, maka mereka mengucapkan, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam (yaitu) Tuhannya Musa dan Harun” (QS 26: 47-48). Lalu Firaun berkata, “Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti akan kupotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, akan kusalib kamu semuanya” (QS 26:49).

Para tukang sihir itu menjawab, “Tidak ada yang kami takutkan, karena kami akan kembali kepada Tuhan kami. Sesungguhnya kami sangat menginginkan sekiranya Tuhan kami akan mengampuni kesalahan kami, karena kami menjadi orang yang pertama-tama beriman” (QS 26: 50-51).

Setiap Nabi membawa mukjizat yang sesuai dengan kondisi umatnya. Apa yang dibawa Nabi Musa as akan berbeda dengan yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Para tukang sihir yang tergolong profesional di zaman Nabi Musa bisa langsung mengetahui bahwa tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular adalah sebuah mukjizat, bukan sihir. Demikian pula yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad. Mukjizat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah Al Quran.

Wahyu yang pertama turun adalah perintah membaca. Dan bagi siapa saja yang membaca Al Quran ini, maka mereka akan mengalami seperti tukang sihir, meyakini bahwa Al Quran yang merupakan mukjizat Nabi Muhammad SAW adalah bukan sembarang bacaan. Kita bisa melihat bahwa di Eropa akibat semakin banyaknya orang yang membaca Al Quran, terutama terjemahannya, mereka lalu menyatakan kesaksiannya sebagai seorang muslim di mana sebelumnya mereka adalah non muslim.
Lalu, bagaimana dengan umat Islam sendiri? Adakah mereka rutin membaca Al Quran dan juga terjemahannya? Atau membaca tafsir dan ayat-ayat Al Quran? 

Mukjizat Al Quran akan bisa diimplementasikan bila umat Islam memiliki interaksi yang baik dengan Al Quran, membacanya secara rutin, mengetahui terjemahannya, memahami isinya, dan mengamalkan perintah serta menjauhi larangan yang tertulis di dalamnya.

Secara umum, rutin membaca terjemahannya saja sudah merupakan bentuk interaksi yang bagus. Menjadikan terjemahan Al Quran sebagai bacaan wajib merupakan bentuk dari mengimani Al Quran bagi umat Islam. Bagi kalangan di luar Islam, membaca terjemahan Al Quran adalah bagian dari memenuhi rasa keingintahuan yang menggebu. Ada yang masuk ke dalam Islam setelahnya, namun ada juga yang sekedar mengagumi isinya dan bahkan menjadikan bahan perang pemikiran karena diketahui umat Islam masih minim interaksinya dengan Al Quran.

Orang-orang yang sekualitas tukang sihir Firaun, yang profesional di bidangnya, ketika menghadapi apa yang dibawa Nabi Musa as dan kemudian beriman, adalah contoh nyata bagaimana orang yang ahli di bidang tertentu ketika suatu saat menghadapi sebuah mukjizat akan bersujud kepada Tuhan yang menciptakannya.

Demikian pula dengan Al Quran, siapa yang berinteraksi dengannya akan merasakan kenikmatan luar biasa baik berupa bahasa yang ada di dalamnya maupun mengikuti cerita masa lalu dan akan datang bagi kaum yang mematuhi maupun melanggar aturan Allah SWT maupun ilmu pengetahuan yang disampaikan. Sayangnya, masih sangat sedikit umat Islam berusaha untuk membaca terjemahan Al Quran secara rutin sehingga budaya yang muncul di tengah mereka adalah paham serba boleh di mana dampak negatif dari melanggar larangan Allah SWT itu tidak bisa dibendung oleh institusi keluarga maupun masyarakat.

Kondisi saat ini, begitu banyak “tukang sihir” yang berusaha menjalankan perintah “Firaun” di mana “tukang sihir” itu belum mendapatkan hidayah untuk beriman kepada Allah SWT. Di sisi lain, wahyu pertama berupa perintah membaca belum dijalankan maksimal oleh umat Islam, apalagi membaca terjemahan Al Quran yang seharusnya menjadi bacaan wajib yang  seharusnya dibaca rutin.

Mari lindungi diri dan keluarga kita dari sihir-sihir yang menjauhkan kita dari Allah, dan sebaliknya mari mulai membaca Al Quran melalui terjemahannya agar kita tidak mengalami disorientasi dalam meniti hidup ini dan sekaligus bisa menjadi pemimpin yang tangguh di lingkungan terdekat kita. ۞

12 Juni 2011

Minggu, 29 Mei 2011

Makna Penaklukan Konstatinopel

Oleh Erwin FS

Nabi Muhammad SAW bersabda saat terjadi perang Khandaq (Ash-Shalabi, 2008), “Konstatinopel akan ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara” (HR Ahmad). Apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW ini terbukti sekitar 800 tahun kemudian.
Nabi Muhammad SAW menyebut penaklukan Konstatinopel ini kepada para sahabat dan kaum muslimin pada waktu itu, bermakna ada hal yang istimewa terjadi dengan penaklukan tersebut. Di dalam hadits yang telah disebutkan, ada sebutan ‘sebaik-baik penguasa’ dan ‘sebaik-baik tentara’. Dan kedua hal itu kelak ada di diri Sultan Muhammad Al Fatih dan pasukannya yang berasal dari Bani Utsmani.

Lord Kinross mengutip Bertrand de Broquiere, seorang pengembara yang menyatakan, “Pasukan Utsmani sangat cepat gerakannya. Seratus pasukan musuh akan jauh lebih gaduh dari sepuluh ribu pasukan Utsmani. Dalam semalam mereka mampu melakukan tiga kali lipat perjalanan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya” (Ash-Shalabi, 2008).

Semenjak wafatnya Rasulullah SAW, setiap orang selalu bertanya-tanya, siapa yang bisa melaksanakan sabda Rasulullah SAW tersebut. Semenjak era kehalifahan Bani Umayyah di tahun 44 Hijriah sudah dilakukan usaha untuk menaklukan Konstatinopel. Kemudian berlanjut di masa kekhalifahan Bani Abbasiyah. Hingga kemudian Konstatinopel bisa ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al Fatih yang merupakan khalifah Bani Utsmani pada tanggal 29 Mei 1453 Masehi atau 20 Jumadil Ula 857 Hijriah, sekitar 800 tahun setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

Pada masa itu, Konstatinopel merupakan salah satu kota terbesar dan terpenting di dunia. Konstatinopel dibangun pada tahun 330 Masehi. Muncul ungkapan, “Andai kata dunia ini berbentuk satu kerajaan, maka Konstatinopel akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibu kotanya” (Mushtafa dalam Ash-Shalabi, 2008).

Sultan Muhammad II atau Sultan Muhammad Al Fatih memegang jabatan pada umur 22 tahun. Pada usia muda ia telah mengungguli teman-temannya dalam menangkap dan menyerap ilmu pengetahuan. Ia menguasai manajemen dan administrasi negara, penguasaan medan dan strategi perang. Ia melakukan restrukturisasi administrasi negara dan keuangan negara. Pembelanjaan dilakukan secara efektif dan efisien untuk mencegah terjadinya pemborosan dan pembobolan uang negara. Ia juga berkonsentrasi meningkatkan kepiawaian pasukan, melakukan restrukturisasi tentara, memberikan tambahan gaji pada tentara dan melengkapi persenjataan terbaik di zamannya  (Ash-Shalabi, 2008).

Di samping itu, Muhammad Al Fatih menjalani didikan oleh ulama dengan baik. Ia mengikuti didikan dari ulama sejak kecil. Guru-gurunya memiliki kebersihan hati hingga mampu menjadikan Sultan Muhammad II mendapatkan pengalaman relijius yang sangat baik. Salah seorang gurunya yang berpengaruh adalah Rabbani Ahmad bin Ismail Al-Kurani. Hingga Muhammad Al Fatih menjadi pemimpin, Al Kurani tidak pernah menundukkan kepala maupun mencium tangan Muhammad Al Fatih, bahkan memanggil dengan nama asli, bukan gelar. Sementara gurunya yang lain Syaikh Aaq Syamsuddin telah menanamkan kepada Muhammad Al Fatih sejak kecil bahwa yang dimaksud oleh Hadits Nabi Muhammad SAW tentang penakluk Konstatinopel adalah dirinya (Ash-Shalabi, 2008).

Dengan harapan bahwa yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW itu adalah tentaranya, maka Muhamad Al Fatih meningkatkan dan memperkuat jumlah tentaranya. Pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan kemahiran menggunakan senjata sangat diperhatikannya. Di samping itu tentarannya juga dibekali semangat keIslaman  dan selalu disampaikan tentang Hadits Nabi Muhammad SAW mengenai sebaik-baik tentara. Muhammad Al Fatih mengerahkan banyak ulama untuk meninggikan moralitas keIslaman pasukannya. Muhammad Al Fatih telah memadukan infrastruktur perang yang mutakhir dan strategi canggih dengan moralitas keIslaman yang tinggi pada pasukannya.

Pada masa itu, Konstatinopel secara militer merupakan kota yang paling aman dan terlindungi. Ia memiliki benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. Sangat sulit untuk menaklukkan kota tersebut. Hingga salah satu titik lemah tersebut berhasil ditembus oleh Sultan Muhammad Al Fatih secara mengejutkan.

Salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium (Konstatinopel) menyatakan, “Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang. Sungguh perbuatannya ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar yang Agung” (Ash-Shalabi, 2008). Pada waktu itu, Muhammad Al Fatih memindahkan kapal-kapal perangnya melalui daratan, sesuatu yang belum pernah terjadi di masa itu. Ini adalah titik awal menjelang takluknya Konstatinopel.

Tanggal 29 Mei  1453 Masehi, Sultan Muhammad Al Fatih berhasil memasuki Konstatinopel. Seluruh masyarakat di kota tersebut diperlakukan dengan baik. Mereka dipersilakan melakukan kegiatan keagamaan maupun kesehariannya. Tidak ada pembunuhan massal. Uskup Agnadius dan uskup-uskup yang diundang makan oleh Sultan Muhammad Al Fatih, setelah bertemu dengan Sultan mendapatkan persepsi berbeda yang selama ini ada tentang Sultan. Mereka  merasa berhadapan dengan seorang sultan yang demikian terdidik dan berperadaban, seorang ksatria sejati yang membawa nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sebelumnya sudah terbayang akan terjadi pembunuhan massal oleh tentara Utsmani. Dan dalam hitungan hari sejak ditaklukan, Konstatinopel telah melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana biasa. 

Pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini adalah, bahwa bagi seorang muslim agar bisa berhasil kehidupannya tidak lain mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Pembinaan pribadi muslim yang berhasil adalah memadukan kemampuan intelektual, fisik dengan semangat keIslaman yang tinggi. Sultan Muhammad Al Fatih dan tentaranya telah mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Termasuk memperlakukan penduduk di daerah penaklukan dengan baik dan menghormati hak-hak mereka. Tidak terjadi pembunuhan massal seperti yang dibayangkan oleh penduduk Konstatinopel, bahkan Muhammad Al Fatih dan tentaranya  memperlakukan manusia di sana dengan baik, hormat dan santun.

Meskipun sudah lebih dari 500 tahun lalu terjadi, peristiwa penaklukkan Konstatinopel sungguh sangat berharga bagi umat Islam untuk mempelajari berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya, terutama bagaimana membentuk sumberdaya manusia yang unggul dengan memperhatikan aspek spiritualitas.

Saat ini begitu banyak umat Islam melupakan aspek spiritualitas mereka sehingga kualitas kehidupan terasa kurang menggembirakan. Jauh dari ajaran agama, hanya berlomba mencari kehidupan dunia. Nabi Muhammad SAW telah meninggalkan Al Quran dan Sunnah yang berisi pembinaan sumberdaya manusia yang unggul. Siapa saja yang mengikuti  metode tersebut, insya Allah akan mendapatkan kebaikan dan kesuksesan.

Meskipun saat ini umat Islam berjarak 1400 tahun lebih dengan kehidupan Nabi Muhammad SAW, pola pembinaan sumberdaya manusia tetap bisa diikuti dengan berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah. Sultan Muhammad Al Fatih yang hidup 800 tahun sejak hijrah Rasulullah SAW telah membuktikan hal tersebut bersama rakyat dan tentaranya. Dan kini, dengan kecanggihan teknologi dan kemudahan hidup, seharusnya kualitas umat Islam bisa jauh lebih baik dan unggul. ۞

29 Mei 2011

Daftar Pustaka

Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Pustaka Al Kautsar, Jakarta: 2008

Jumat, 20 Mei 2011

Kebangkitan Nasional dan Kepedulian Bangsa

Oleh Erwin FS

Dokter Wahidin Sudirohusodo, pengagas berdirinya Budi Utomo dikenal sebagai dokter yang memiliki kepedulian kepada masyarakat, terutama masyarakat tidak mampu. Ia sering mengobati masyarakat tidak mampu tanpa mengenakan biaya. Ia juga mengusulkan pemberian beasiswa bagi pelajar tidak mampu yang memiliki kecerdasan.
Meskipun tidak menjadi pendiri maupun pengurus Budi Utomo, dr Wahidin telah menjadi peletak kebangkitan nasional. Bangkit dari ketertindasan, keterjajahan, kebodohan, dan kemiskinan yang pada waktu itu tengah dirasakan oleh rakyat pada masa itu.
Dokter Wahidin telah menjadi teladan dengan peduli kepada rakyat melalui pengobatan gratis dan pengusulan pemberian beasiswa. Inilah yang dibutuhkan oleh rakyat pada hari ini, kepedulian akan ketidakmampuan akibat ”penjajahan”. Penjajahan pada masa itu tentu berbeda konteksnya dengan penjajahan saat ini.
Saat ini, penjajahan itu bersumber dari perilaku individualisme. Dengan berkembangnya budaya neoliberalisme yang mengedepankan individualisme dan uang, kondisi sosial masyarakat mengalami perubahan. Menyelamatkan nyawa tanpa ketersediaan uang adalah hal yang mustahil saat ini. Uang harus tersedia jika ingin nyawa selamat.
Individualisme didorong oleh kurangnya sikap menjalankan ajaran agama secara benar. Perzinahan terjadi di mana saja. Bahkan sambil naik motor dan bisa dilihat orang. Tidak sedikit orangtua tidak mampu mendidik anak perempuan mereka untuk melindungi diri dari bahaya yang mengancam. Lalu lintas semrawut, kebut-kebutan dan melanggar rambu lalu lintas dan marka jalan. Banyak laki-laki dewasa yang tidak melaksanakan Shalat Jumat, belum lagi shalat 5 waktu.  

Ketika kondisi yang tidak kondusif bagi kemanusiaan kita ini semakin menjalar ke bebagai tempat, maka obatnya adalah dengan memperbaiki diri, lalu memperbaiki keluarga bagi yang sudah berkeluarga dan kemudian memperbaiki masyarakat. Tidak mungkin bisa memperbaiki orang lain tanpa memperbaiki diri dahulu.

Cita-cita kebangkitan nasional adalah sejalan dengan semangat Proklamasi dan juga UUD 1945 yang dilahirkan pada saat itu. UUD 1945 pada saat dilahirkan sarat dengan nilai agama, kepedulian, kebersamaan dan pemerataan. Hal ini dikarenakan para pembuatnya merasakan langsung pahitnya dijajah, diambil hasil buminya oleh penjajah dan kepahitan lainnya.

Namun, saat ini seolah-olah semangat kepedulian dan pemerataan itu hilang. Yang muncul ke permukaan justru individualisme di segala level tingkat pendapatan masyarakat. Namun demikian, usaha memperbaiki kondisi selalu dilakukan oleh orang-orang yang sadar akan bahaya yang mengancam.

Lalu, bagaimana mengimplementasikan kepedulian itu dan mewujudkan pemerataan? Siapa yang bisa dijadikan model? Menjawab hal ini, maka salah satu model yang bisa dilihat adalah Nabi Muhammad SAW.  

Ketika hijrah Rasulullah ke Madinah, yang dilakukan pertama kali adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshor. Dengan persaudaraan ini, biaya hidup kaum Muhajirin ditanggung. Namun demikian, kaum Muhajirin juga berusaha agar bisa mandiri.

Setelah Rasulullah SAW menjadi pemimpin di Madinah, kebijakan yang dilakukan adalah membentuk baitul mal, di mana lembaga ini berfungsi memberikan santunan kepada orang-orang miskin. Kemudian ketika Rasulullah wafat dan digantikan Abu Bakar Siddiq ra, Abu Bakar Siddiq memerangi orang yang tidak mau membayar zakat. Kemudian ketika kepemimpinan Abu Bakar Siddiq digantikan oleh Umar bin Khaththab ra, Umar tetap memperhatikan pentingnya pemerataan dan kepedulian. Salah satu cerita yang terkenal adalah ketika Umar membawa sendiri makanan untuk seorang ibu yang tidak memiliki makan untuk anaknya.

Kepemimpinan sejak Rasulullah SAW hingga Khulafaur Rasyidin mengedepankan kepedulian kepada orang tak mampu (dhuafa). Kepedulian mereka kepada rakyatnya adalah bagian dari ajaran Islam yang diterima Rasulullah dan diajarkan kepada sahabatnya serta masyarakat serta buah dari pemahaman agama yang lurus.
Maka, untuk menumbuhkan kepedulian, dibutuhkan pemimpin yang juga memahami agamanya maupun nilai-nilai universal. Karena pemimpin yang memahami agamanya akan mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, termasuk Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Abdul Aziz berhasil menjadikan rakyatnya pembayar zakat setelah sebelumnya ia membagikan zakat kepada rakyatnya. Di samping itu, tata kelola pemerintahan ia luruskan agar sesuai dengan amanah yang diemban.
Kebangkitan nasional yang telah dialami masyarakat jazirah Arab di zaman Rasulullah SAW merupakan inspirasi bagi kita agar kembali mendalami ajaran agama dan sekaligus menunjukkan kepedulian kepada sesama, terutama kaum dhuafa.
”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS 7:96).
Rasulullah SAW dan para sahabat telah mengaplikasikan keimanan mereka dengan peduli kepada kaum dhuafa. Kebangkitan nasional di masa Rasulullah SAW adalah implementasi dari pemahaman agama yang lurus dan dirasakan manfaatnya hingga kini.
Meskipun jazirah Arab juga mengalami kebangkitan nasional setelah tahun 1900, namun berbeda dengan kebangkitan nasional yang terjadi pada zaman Rasulullah. Di mana pada saat itu ajaran Islam dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Sehingga manfaatnya langsung terasa oleh masyarakat.
Kebangkitan nasional akan bermakna ketika tersedia sumber daya manusia yang mampu membawa perubahan ke arah lebih baik dengan menjunjung nilai-nilai universal dan menunjukkan keteladanan sehingga terbentuk budaya organisasi yang menstimulus masyarakat untuk bekerja dengan baik. (*)
Dimuat di Padang Ekspres 20 Mei 2011


Selasa, 15 Februari 2011

Manajer SDM yang Handal

Oleh Erwin FS


Munculnya nama Muhammad SAW di jazirah Arab telah membuat ketar-ketir para pemimpin yang ada di sana. Ajaran yang di bawa Muhammad SAW mereka yakini akan berpengaruh terhadap kekuasaan mereka. Muhammad SAW  ditawari harta, wanita dan tahta agar tidak menyebarkan ajarannya. Secara eksplisit bisa dijelaskan bahwa Islam bisa runtuh dengan godaan harta, wanita dan tahta.
Ajaran Islam yang dibawa Muhammad SAW  bukan saja ditakuti pada saat itu, tapi hingga saat ini pun masih ditakuti oleh para penguasa zalim, yang tidak mau menegakkan keadilan kepada masyarakatnya. Untuk meruntuhkan Islam itu, maka mereka pun menggunakan harta, wanita dan tahta, dan berhasil. Namun masih ada sebagian dari umat Islam yang bertekad melaksanakan dan menyampaikan ajaran Islam yang dibawa Muhammad SAW.
Ajaran Islam yang dibawa Muhammad  SAW telah mengubah peta dunia, baik peta imperium kekuasaan, peradaban maupun peta imperium ilmu pengetahuan. Dan semuanya diawali dari upaya melakukan pembinaan SDM yang tidak putus. Keberhasilan Muhammad SAW  menyampaikan ajaran Islam ditopang oleh kualitas SDM yang handal hasil pembinaan Muhammad SAW. Mereka bukanlah dibina laksana sekolah maupun kursus, akan tetapi dibina setiap saat hingga Muhammad SAW  wafat.
Akhlak mereka diarahkan sesuai dengan ajaran Islam. Kedekatan mereka kepada Allah SWT pun diarahkan sesuai dengan ajaran Islam. Pun pelaksanaan pemerintahan maupun perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat, tidak luput dari perhatian Muhammad SAW.
Internalisasi ajaran Islam diarahkan dengan baik oleh Muhammad SAW  kepada umatnya. Setelah Muhammad wafat, para sahabat dan tabi’ tabi’in meneruskan apa yang sudah dilakukan Muhammad. Pembinaan SDM inilah kunci kesuksesan Islam memimpin peradaban dunia. Pembinaan SDM yang terus menerus inilah yang pada saat ini hilang dari umat Islam. Dalam konteks pendidikan, porsi pendidikan agamapun tidak mencukupi untuk membina mental siswa. Hingga menyebabkan dekadensi moral yang semakin parah.
­­­­Sekolah dan orang tua mencoba saling mengandalkan pendidikan agama anak mereka. Namun yang terjadi, siswa belum mendapatkan asupan pelajaran agama yang proporsional. Di zaman sekarang, pendidikan agama dikesampingkan akibat upaya sekulerisasi yang menganggap agama tidak ada pengaruhnya dalam kemajuan zaman. Namun saat ini terbukti bahwa dekadensi moral terjadi akibat kurangnya pendidikan dan pemahaman agama peserta didik.
Demikian pentingnya pendidikan dan pemahaman agama, Muhammad SAW  telah menekankan ini kepada umatnya. Para sahabat yang hidup pada zaman Muhammad mengikuti pembinaan diri yang berlandaskan ajaran Islam. Pembinaan dan pembentukan serta penataan ini sungguh luar biasa dampaknya. Semasa Muhammad SAW  hidup, pemerintahan Madinah terbentuk dengan dipimpin langsung oleh Muhammad SAW. Kemenangan dalam berbagai peperangan dalam melawan kaum kafir, disamping karena persiapan yang dilakukan juga karena kedekatan mereka kepada Allah SWT sangat tinggi. Perang Badar dengan jumlah pasukan yang tidak seimbang di sisi kaum muslimin justru dimenangi kaum muslimin.
Perang pada masa kepemimpinan Muhammad SAW adalah sebuah keniscayaan. Perang ini bukanlah citra bahwa Islam barbar, justru sebaliknya. Negeri-negeri yang ditaklukan oleh kaum muslimin, penduduknya dilindungi dan keamanannya dijamin serta keadilan ditegakkan. Berbeda dengan pasukan dari kaum/kelompok lain dimana setiap terjadi penaklukan, negerinya dibumihangsukan, penduduknya dibunuh secara keji atau dijadikan budak. Hal ini yang menyebabkan ada negeri yang merasa jauh lebih aman dipimpin oleh kaum muslimin dibanding oleh kaumnya sendiri atau kelompok lain.
SDM yang dibentuk Muhammad SAW terbukti mampu mewariskan kepemimpinan yang amanah, peduli dengan yang lemah serta dekat dengan Allah SWT. Sayangnya hari ini, pola manajemen SDM yang diterapkan oleh Muhammad SAW ini belum dilaksanakan oleh seluruh kaum muslimin sehingga kualitas SDM umat Islam belum berada pada posisi yang menggembirakan.
Muhammad SAW telah menyampaikan bahwa umatnya tidak akan runtuh jika berpegang kepada Al Quran dan Sunnah Rasulnya. Sayangnya, dua hal ini yang belum menjadi acuan dalam kehidupan umat Islam. Muhammad memang memiliki akhlak yang luar biasa bagus. Namun itu tidak cukup dijadikan pedoman oleh umat Islam. Umat Islam tidak perlu terpesona maupun rendah diri ketika orang lain menyebut bahwa Muhammad SAW adalah pribadi yang santun, lemah lembut, tidak kasar, tidak menghakimi dan lain sebagainya.
Yang perlu diperbaiki oleh umat Islam saat ini justru  pemahaman terhadap aqidah mereka. Muhammad SAW memang pribadi yang mengagumkan namun juga diiringi dengan memiliki pemahaman aqidah yang benar. Demikian juga dengan sahabat yang dibina oleh Muhammad SAW  pada masa itu, memiliki aqidah yang sejalan dengan yang diajarkan Islam.
Pada saat ini, menunjukkan aqidah yang sesuai dengan Islam kerap dipandang negatif, padahal sama sekali tidak melakukan kerusakan di masyarakat. Ajaran Islam yang toleran bukan berarti aqidahnya lemah, justru toleran dengan aqidah yang kokoh.
Jika umat Islam mau dan mampu mengikuti konsep pembinaan SDM yang telah dilakukan oleh Muhammad SAW, insya Allah apa yang pernah dicapai oleh umat zaman beliau akan kembali menjadi kenyataan. Tentunya perlu kesabaran dan keikhlasan. Karena sesungguhnya apa yang dialami oleh Muhammad SAW dan umatnya pada waktu itu juga ada yang penuh dengan kekerasan. Namun mereka bersabar dan tetap berusaha.
12 Rabiul Awal 1432 H, 15 Februari 2011

Selasa, 07 Desember 2010

Hijrah, Pemerataan dan Pertumbuhan

Oleh Erwin FS


Banyak hikmah yang kita bisa ambil dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW bersama keluarga, sahabat dan kaum muslimin. Dari berbagai sudut pandang bisa diambil berbagai hikmah. Untuk kali ini, izinkan saya memandangnya dari sisi ekonomi. Berhubung waktu yang pendek dalam pembuatan penulisan ini, maka referensinya pun tidak saya cari dulu bukunya. Namun insya Allah kita semua pun sudah pernah membacanya.
Hijrahnya Nabi dikarenakan sudah tidak kondusifnya suasana di Mekah. Sudah banyak penyiksaan. Namun demikian, kita juga patut mencatat bahwa betapa opini yang terbentuk di Mekah tentang dakwah Nabi, mereka banyak yang mempercayakan penitipan hartanya kepada Nabi karena mereka tahu bahwa Nabi adalah orang yang sangat bisa dipercaya.

Sebelum hijrah, Nabi Muhammad sudah menyerahkan ataupun mengembalikan berbagai barang titipan warga Mekah. Dengan demikian, ketika Nabi hijrah tidak ada titipan warga Mekah yang masih di tangan beliau. Integritas Nabi ini sebetulnya merupakan credit point bagi para aktivis dakwah bahwa betatapun orang menganggap ajaran Islam itu negatif, mereka tetap akan melihat bagaimana integritas para pelakunya.

Ini adalah hikmah penting memasuki tahun 1432 Hijriah ini bahwa akhlak bagi aktivis dakwah maupun kaum muslimin merupakan syarat mutlak untuk berinteraksi di tengah masyarakat. Media yang kadang membentuk opini masyarakat sedemikian rupa tidak bisa membenamkan informasi mengenai akhlak para aktivis dakwah ataupun kaum muslimin dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Sudah barang tentu berat sekali menjaga agar akhlak tetap dalam keadaan baik. Apalagi kadang ada salah sedikit sudah menjadi berita heboh yang memberikan pandangan negatif terhadap aktivis dakwah maupun kaum muslimin.

Namun demikian, ini juga menjadi catatan penting bahwa bagi yang ingin berhijrah, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah kemampuan merubah perilaku menjadi lebih baik. Tidak mungkin hijrah untuk menjadi lebih baik namun perilaku yang ditunjukkan tidak mendukung ke arah perbaikan.

Kemudian ketika Nabi sudah berada di Madinah, maka selanjutnya Nabi mempersaudarakan kaum muhajirin Mekah dengan kaum anshor Madinah. Bahkan ada kaum anshor yang rela melepas salah satu istrinya untuk diperistri oleh kaum muhajirin.

Kebijakan Nabi ini sesungguhnya bagian dari strategi pemerataan ekonomi. Kaum muhajirin yang tidak punya karena banyak yang hijrah dengan meninggalkan harta benda mereka mendapat bantuan dari kaum anshor. Di sini terjadi distribusi pendapatan, terjadi perputaran uang. Ada pula sahabat yang minta dicarikan pasar untuk memulai berusaha. Dan sebagian mereka mengalami akumulasi pendapatan dari kegiatan di pasar ini.

Apa yang dilakukan oleh Nabi merupakan kegiatan sederhana namun berbekas. Ini bisa dicontoh oleh para pemimpin yang mencoba menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam kepemimpinannya bagaimana melakukan pemerataan ekonomi di antara penduduk. Namun bisa dilakukan dengan berbagai program maupun kebijakan dalam bentuk lain dimana intinya adalah terjadinya distribusi pendapatan dan perputaran uang.

Di zaman sekarang, pemerataan bisa dilakukan dengan dua sumber setidaknya, yaitu anggaran pemerintah dan anggaran non pemerintah (zakat, infak, sedekah, hibah, grant dan lain-lain). Jika diasumsikan pemerataan melalui anggaran pemerintah telah optimal maupun maksimal, namun belum bisa mencakupi seluruh penduduk. Di sinilah anggaran non pemerintah diperlukan untuk menambah upaya pemerataan.

Saat ini isu pemerataan termasuk cukup gencar karena pertumbuhan ekonomi sudah tidak bisa diandalkan untuk menutupi ketimpangan antara penduduk yang semakin lebar. Pemerataan menjadi sangat diperlukan agar rakyat bisa menikmati kehidupan berekonomi. Mereka tidak hanya butuh untuk berusaha/bekerja namun juga butuh untuk mendapatkan jaminan kesehatan bisa sakit yang mereka derita membutuhkan biaya yang mahal.

Kembali ke kebijakan Nabi Muhammad SAW mempersaudarakan kaum muhajirin dengan anshor, maka kita bisa melihat bahwa Nabi berusaha agar kelompok yang tidak memiliki sumber daya bisa mendapatkan jaminan perlindungan dari kelompok yang memiliki sumber daya. Di kehidupan yang semakin kompleks, dalam kebijakan pemerintah tidak mungkin melakukan jaminan seperti yang dilakukan Nabi, perlu inovasi kebijakan yang bisa menjamin kelompok yang tidak memiliki sumber daya untuk tetap eksis.

Kembali lagi kepada cerita hijrah Nabi, dengan adanya jaminan hidup dari kaum anshor, maka secara perlahan kaum muhajirin juga berupaya untuk mandiri. Di samping itu, dakwah Islam juga semakin berkembang di Madinah. Para konglomerat muslim juga mulai bermunculan. Kebijakan zakat, infak dan sedekah dilaksanakan ketika Nabi menjadi pemimpin di Madinah.

Saya melihat bahwa strategi dan kebijakan Nabi justru dimulai dari pemerataan ekonomi. Mungkin ini juga sesuai dengan kondisi pada waktu itu. Namun jika berangkat dari pemerataan ekonomi, maka perputaran uang dan distribusi pendapatan akan lebih merata. Dan ini diiringi berfungsinya baitul maal dengan baik.

Perdagangan internasional yang dilakukan juga mendukung terjadinya perputaran uang, perputaran arus barang dan juga distribusi pendapatan. Walaupun ada distorsi, namun Nabi dengan cepat memberikan informasi tentang pengaturan dalam bermuamalah.

Namun demikian, semasa Nabi menjadi pemimpin di Madinah, umat Islam kerap mendapat cobaan berupa berbagai peperangan. Ini juga menjadi hikmah berharga bahwa dengan dimulai dari kebijakan pemerataan, maka ketika terjadi kondisi sulit, kesulitan ini juga akan merata, tidak terjadi ketimpangan yang menganga. Jika pun terjadi kesulitan, sahabat dan kaum muslimin sudah dibina dengan kegiatan berinfak. Ini juga didukung dengan ayat-ayat dalam Al Quran yang menerangkan bahwa berjihad dengan harta dan jiwa. Ini terlihat bahwa harta berada di depan dalam berjihad dibandingkan jiwa.

Selepas kepemimpinan Nabi Muhammad khalifah berikutnya juga mewarisi kebijakan pemerataan ekonomi dengan melaksanakan pemungutan dan pengelolaan zakat, infak dan sedekah. Semakin maju dan kompleks kehidupan kaum muslimin, instrumen kebijakan ekonomi pun juga makin beragam.

Lalu bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi? Jika melihat aktivitas perdagangan yang menjadi urat nadi utama perkonomian di masa awal semenjak hijrah, terlihat ada peningkatan volume perdagangan di Madinah, baik di dalam negeri maupun antar luar negeri. Bahkan konon kabarnya Adam Smith pun merujuk kegiatan perekonomian yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, sahabat dan kaum muslimin di Madinah sebagai karakter negara maju, yaitu melakukan perdagangan internasional.

Meskipun saya tidak memiliki data yang akurat mengenai hal ini namun bisa disimpulkan bahwa melalui pemarataan ekonomi dan pemerintahan yang adil dan berintegritas akan memunculkan pertumbuhan ekonomi. Nabi Muhammad pun mencela tindakan-tindakan negatif yang dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan perekonomian, baik jual beli maupun  pengupahan dan juga riba. Dengan adanya arahan ini, kaum muslimin mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak untuk berbagai kegiatan perekonomian.

Pentingnya kebijakan pemerataan ekonomi yang telah dimulai sejak kepemimpinan Nabi Muhammad dan diteruskan oleh para khalifah berikutnya adalah sejalan dengan tujuan syariah, salah satunya adalah melindungi nyawa. Kebijakan pemerataan erat kaitannya dengan empati sesama manusia. Dan Nabi serta para pemimpin kaum muslimin berikutnya selalu berusaha menjadi contoh dan berempati kepada rakyatnya dengan hidup sederhana. Tentu saja hidup sederhana ini juga tidak bisa diartikan dengan mendekati kemiskinan.

Dukungan kepada pemerataan ekonomi dan kegiatan perdagangan pada masa awal kepemimpinan Nabi menunjukkan bahwa kegiatan sektor riil akan memiliki pengaruh terhadap distribusi pendapatan dan terjadinya percepatan peredaran uang.

Pertumbuhan ekonomi dihitung dari perbandingan antara volumen aktivitas ekonomi tahun sekarang dengan tahun sebelumnya. Jika hasilnya positif berarti terjadi perbaikan. Cuma masalahnya untuk konteks sekarang, pertumbuhan ekonomi dinilai dari besaran angka. Semakin besar maka bisa berarti perekonomian semakin bagus. Namun bagusnya perekonomian belum tentu sebagus pemerataan yang dihasilkan.

Hijrah Nabi Muhammad beserta keluarga, sahabat dan kaum muslimin yang dilanjutkan dengan kebijakan yang dikeluarkan Nabi telah mengajarkan kita pentingnya pemerataan ekonomi sebagai jalan untuk memberikan kelayakan hidup bagi masyarakat. Bahkan Umar bin Abdul Aziz yang sering disebut sebagai khalifah kelima pun melaksanakan kebijakan pemerataan ekonomi yang telah digariskan oleh Nabi.

Di samping itu yang tak kalah pentingnya adalah bahwa ketika di Mekah, kaum muhajirin telah mendapatkan pembinaan mental spiritual yang kelak menjadi basis dalam bermasyarakat di Madinah. Demikian pula kaum anshor, mereka juga dibina oleh Nabi ketika Nabi sudah di Madinah. Basis mental spiritual inilah yang membuat masyarakat memiliki konsep hidup dan mampu menjadi negara yang maju secara perekonomian dengan memperhatikan pentingnya pemerataan ekonomi.

Hendaknya di negeri kita, apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad ini juga menjadi acuan dalam menjalankan pemerintahan. Basis mental spiritual bagi masyarakat sangat diperlukan agar mereka bisa bersyukur, bersabar dan juga bersungguh-sungguh dalam beraktivitas dan juga menghadapi hidup yang penuh dinamika.

Sudah banyak berita yang memperlihatkan orang yang bunuh diri, melakukan kriminalitas dan perbuatan jahat lainnya yang mencerminkan bahwa masyarakat kita tidak memiliki basis mental spiritual yang memadai. Orang-orang yang merasa dirinya pintar pun juga tidak sedikit yang merendahkan peran pemahaman agama yang benar sebagai basis dari kegiatan perekonomian masyarakat.

Dengan contoh nyata dari Nabi Muhammad dan kaum muslimin di Madinah serta kebijakan khalifah berikutnya, dan juga arahan Al Quran, maka kaum muslimin tidak perlu ragu untuk mengembangkan basis mental spiritual yang kokoh di tengah masyarakat. Bukankan Allah juga telah menyatakan di dalam Al Quran bahwa hanya dengan mengingat Allah saja hati akan menjadi tenang.

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari berbagai sudut pandang di tahun baru ini. Selamat tahun baru Islam 1432 Hijriah. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita di tahun baru ini.
7 Desember 2010/1 Muharam 1432 H

Jumat, 16 Juli 2010

Manajemen SDM Organisasi (Gerakan) Islam

Oleh Erwin FS

Setelah Barat (kapitalisme) memenangkan pertarungan dengan Timur (komunisme), maka isu berikutnya adalah benturan peradaban. Isu ini dipopulerkan oleh Samuel Hutington yang menyatakan bahwa setelah menghadapi Timur, Barat akan berhadapan dengan Islam dimana di sini akan terjadi berbagai benturan.

Recent Post

Dilema Inklusi Keuangan di Indonesia

Oleh Erwin FS Bank Dunia merilis data terkait inklusi keuangan (Kompas, 17/4/2015), pada rentang 2011-2014 700 juta orang di dunia men...

Popular Post