Selasa, 29 April 2008

Menghadapi Krisis SDM

Oleh Erwin FS


Inti dari permasalahan sumber daya manusia (SDM) adalah masalah produktivitas. Semakin memiliki keahlian dan pendidikan yang lebih tinggi/banyak maka individu akan semakin produktif. Pendidikan memegang peran penting dalam meningkatkan produktivitas individu dan masyarakat. Masyarakat negara maju yang umumnya bependidikan lebih tinggi dari masyarakat negara berkembang menghasilkan produktivitas lebih tinggi, dan tidak terfokus kepada hal yang berkaitan dengan pekerjaan saja tetapi untuk semua aspek kehidupan.
Dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945), salah satu tujuan berdirinya negara adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah melalui pendidikan. Dalam perbaikan UUD 1945, anggaran untuk pendidikan dipatok sebesar 20 persen dari APBN dan APBD. 
 
Tadinya anggaran 20 persen dikhususkan untuk pendidikan saja, sementara gaji guru tidak termasuk di dalamnya. Namun keputusan Mahkamah Konstitusi menjadikan gaji guru termasuk di dalam anggaran pendidikan sebesar 20 persen. Sebelum keputusan ini muncul, banyak pihak yang melakukan aksi demonstrasi menuntut agar pemerintah merealisasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen, dan muncul isu impeachment jika angka 20 persen tidak bisa tercapai. Permintaan tersebut tidak bisa terpenuhi dengan alasan pemerintah juga memperhatikan sektor lain yang tidak kalah penting dengan pendidikan. Meskipun tidak sampai 20 persen realisasi anggaran pendidikan, peningkatan telah terjadi. Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama mendapatkan bantuan dari pemerintah sehingga biaya SPP bisa digratiskan untuk masyarakat. Masyarakatpun menikmati pendidikan gratis untuk SD dan SMP, meskipun baru terbatas pada SPP dan buku. 
Dengan adanya penggabungan gaji guru ke dalam anggaran pendidikan, peluang untuk peningkatan kualitas pendidikan sedikit demi sedikit pudar. Harapan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa juga tidak tersampaikan. Pendidikan gratis untuk SD dan SMP cukup membantu masyarakat yang saat ini tengah menghadapi kenaikan harga barang dan jasa. Jika pemda bisa menggratiskan untuk SMA (Sekolah Menengah Atas) atau SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), maka harapan masyarakat agar anaknya bisa mendapatkan pendidikan lebih baik akan terpenuhi. Namun sayangnya tidak semua pemda yang mampu menggratiskan biaya pendidikan SMA/SMK. Padahal, jika anggaran dari pusat bisa terpenuhi 20 persen ditambah dengan dana dari daerah kemungkinan akan mampu menggratiskan biaya pendidikan hingga tingkat SMA. 
Bantuan pemerintah pusat untuk pendidikan SD dan SMP adalah sebuah kebijakan yang bisa meningkatkan kualitas SDM rakyat Indonesia. Di era Orde Baru, banyak masyarakat yang hanya tamat SD. Dengan kebijakan pendidikan gratis untuk SD dan SMP, berarti akan menghilangkan masyarakat yang tamat SD, dan menjadikan setidaknya masyarakat bisa tamat SMP. Namun, jika rata-rata masyarakat Indonesia tamat SMP tetap tidak akan mampu bersaing dengan negara lain. Apa yang bisa dibanggakan jika rata-rata masyarakat Indonesia adalah tamatan SMP, sementara negara-negara lain penduduknya rata-rata tamatan SMA ataupun tamatan universitas. Indonesia akan menjadi pasar tenaga kerja murah jika rata-rata masyarakatnya tamatan SMP.

Pada saat ini saja, tamatan SMA sudah kalah bersaing dengan lulusan universitas dalam pasar tenaga kerja Indonesia. Tamatan SMA yang mujur, bisa menjadi pegawai negeri sipil. Sementara yang kurang beruntung akan bekerja di sektor swasta atau non formal dengan penghasilan yang kurang memadai. Lingkaran kemiskinan sudah mulai memasuki mereka. Anak-anak mereka akan kurang terperhatikan untuk menikmati pendidikan karena penghasilan orang tuanya yang tidak mencukupi. Jika orang yang tamat SMA sudah tidak bisa bersaing, tentunya orang yang tamat SMP akan bernasib lebih buruk lagi. 
 
Hal ini menggambarkan akan terjadi krisis SDM di Indonesia. Krisis ini jauh lebih berbahaya jika dibandingkan dengan krisis moneter yang menimpa Indonesia dekade 90an. Krisis SDM akan memperburuk kualitas masyarakat Indonesia. Dan saat ini tanda-tanda tersebut sudah nampak. Misalnya, gizi buruk yang melanda sebagian masyarakat Indonesia. Sebagian mereka adalah orang miskin yang berpenghasilan rendah. Disamping itu, kematian seorang ibu hamil dan anaknya yang dikabarkan tidak makan beberapa hari juga menjadi pertanda telah terjadi krisis SDM. 
 
Orang-orang miskin umumnya berpendidikan rendah dan berpenghasilan rendah. Anak-anak mereka ada yang bekerja membantu orang tuanya, ada yang sekolah namun tidak sampai tamat akibat kesulitan biaya, ada juga yang akhirnya menjadi peminta-minta. Sebagian orang miskin tersebut tidak terdaftar sebagai penduduk resmi di RT, RW atau Kelurahan. Mereka yang tidak terdaftar ini tidak terpantau oleh pemerintah dan akhirnya hak-hak mereka tidak bisa diberikan oleh pemerintah. Namun, orang miskin yang memiliki bukti-bukti administratif di RT, RW dan Kelurahan juga banyak yang tidak mendapatkan haknya. 

SMK dan Kewirausahaan
Jika seluruh masyarakat Indonesia setidaknya tamatan SMP adalah sebuah prestasi yang cukup baik untuk saat ini. Namun jika kita melihat masih banyak anak usia sekolah (SD-SMP) yang berkeliaran pada jam sekolah menunjukkan bahwa masih sulit untuk menjadikan seluruh anak usia sekolah itu mendapatkan haknya yang minimal yaitu menamatkan SMP. Akan tetapi usaha untuk menggratiskan pendidikan dasar tetap perlu didukung dan diawasi masyarakat agar pemerintah memberikan komitmennya meskipun kondisi ekonomi kurang menggembirakan. 
 
Masyarakat yang hanya bisa menamatkan SMP saja perlu mendapat perhatian dari pemerintah agar mereka bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) supaya mereka memiliki keterampilan untuk mencari nafkah. Pemerintah perlu mensosialisasikan kepada masyarakat tentang perbedaan SMA dan SMK agar masyarakat bisa mengantisipasi biaya pendidikan. Mereka yang meneruskan ke SMA berarti akan melanjutkan ke Pendidikan Tinggi. Dengan demikian mereka harus menyiapkan dana pendidikan. Sementara mereka yang memiliki keterbatasan dana pendidikan, dianjurkan untuk memilih SMK agar memiliki keterampilan setelah menamatkan sekolah dan langsung bisa mencari kerja tanpa harus melanjutkan ke pendidikan tinggi. Beberapa daerah sudah terlihat memfokuskan diri pada pendirian SMK di daerahnya. Ini adalah sebuah usaha yang patut dihargai. 
 
Disamping usaha untuk menggratiskan biaya pendidikan di SMK, pemerintah juga perlu memperbaharui kurikulum SD dan SMP sehingga siswa SD dan SMP telah mengenal kewirausahaan tidak hanya teoritis tetapi juga dalam prakteknya. Ini perlu dilakukan agar para siswa juga memiliki jiwa kewirausahaan sejak awal dan juga untuk mengantisipasi jika mereka tidak mampu melanjutkan ke SMK/SMA. Beberapa sekolah alam (namun sayang biaya sekolahnya termasuk mahal) telah memasukkan kewirausahaan dalam kurikulum mereka dan siswa diminta mempraktekkannya. Sambutan orang tua juga antusias melihat anak-anak mereka sudah melakukan wirausaha semenjak pendidikan dasar. 

Kewirausahaan urgen untuk diperkenalkan sejak pendidikan dasar. Hal ini berdasarkan fakta bahwa tidak semua penduduk bekerja di sektor formal dan juga tingginya angka pengangguran. Pengenalan kewirausahaan di pendidikan dasar adalah sebuah antisipasi terhadap ketidakmampuan masyarakat mengikuti jenjang pendidikan SMA/SMK ataupun pendidikan tinggi dan untuk menghadapi krisis ekonomi. Sektor informal adalah sektor yang telah terbukti mampu menghadapi krisis ekonomi, sehingga semangat kewirausahaan diharapkan mampu menjadi bekal masyarakat menghadapi krisis ekonomi yang sampai saat ini masih terjadi.
 
Pengenalan terhadap kewirausahaan adalah langkah antisipatif terhadap krisis SDM. Di masa mendatang harga barang dan jasa diramalkan akan semakin tinggi sehingga kemampuan masyarakat kebanyakan membiayai pendidikan akan semakin turun. Dengan asumsi kebanyakan masyarakat hanya bisa menamatkan bangku SMP, maka akan muncul angkatan kerja tamatan SMP yang akan bersaing dengan tamatan SMA dan Perguruan Tinggi. Jika tidak mendapatkan pemberdayaan, maka tamatan SMP ini umumnya akan bekerja di sektor informal. Di sektor informal yang mungkin mereka lakukan adalah berdagang. Jika di bangku pendidikan dasar mereka sudah mengenal dunia kewirausahaan, akan menjadi bekal yang sangat berharga ketika mereka terjun ke dunia tersebut. Mereka bisa meningkatkan nilai yang ada pada diri mereka dan diharapkan akan bisa meningkatkan penghasilan baru. Dan diharapkan mereka bisa terlepas dari lingkaran kemiskinan yang selalu menghantui bangsa ini.
 
Jakarta, 29 April 2008



 

Selasa, 25 Maret 2008

Muhammad SAW dan Manajemen Strategis

Oleh Erwin FS


12 Rabiul Awal telah ditakdirkan menjadi hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, seorang Nabi penutup dan pemimpin yang namanya paling sering diucapkan oleh umat manusia setiap saat hingga saat ini. Kelahirannya di tengah alam yang gersang dan jahiliyah memberikan arti baru kehidupan manusia di bumi dan memunculkan kembali fitrah manusia yang telah hilang dalam kehidupan jahiliyah.

Di alam jahiliyah, seorang ayah lebih berani mengubur hidup-hidup anak perempuannya daripada membiarkannya hidup. Di alam jahiliyah, seorang anak bisa menikahi ibu kandungnya sendiri bila ayahnya telah meninggal, dan banyak lagi kegelapan yang pekat menjalari kehidupan umat manusia pada masa itu.Muhammad SAW adalah pembawa rahmat untuk seluruh alam. Nilai-nilai Islam yang universal telah ditegakkannya sehingga membuat dunia terang dengan keikhlasan, kejujuran, tolong-menolong, keadilan, kemanusiaan, dan berbagai nilai universal lain yang sebelumnya terkunci rapi di gudang kejahiliyahan.

Muhamad SAW adalah sosok yang paradoks bagi kaum kafir pada waktu itu. Mereka sangat membenci Muhammad karena menyebarkan Islam namun sekaligus mempercayai harta mereka dititipkan kepada beliau karena akhlaknya yang mulia. Mereka sangat ingin membunuh Muhammad karena Islam telah mengancam kekuasaan mereka namun mereka meminta dipersatukan oleh Muhammad ketika mereka berseteru dalam peletakkan batu Ka’bah.

Muhammad SAW telah menjelma menjadi seorang pemimpin yang ternyata mengimplementasikan manajemen strategis dalam kehidupannya. Salah satunya adalah yang telah disebut di atas yaitu kejujuran, beliau adalah seorang pemimpin yang memiliki etika bisnis (istilah ekonomi) tinggi, sangat dipercaya kejujurannya sekaligus dibenci karena membawa ajaran yang berbeda dengan aliran mainstream pada jamannya. Inilah dunia manajemen strategis yang terdapat pada kehidupan Muhammad SAW, dan Allah secara tidak langsung meminta hambanya yang soleh untuk melaksanakan manajemen strategis dalam kehidupan umat Islam.
 
Ketika menjalani perniagaan pun, etika bisnis tinggi yang diperlihatkannya dalam berdagang telah menjadikannya sebagai pedagang yang berhasil dan memikat hati Siti Khadijah. Etika bisnis yang kini banyak dilupakan orang telah membuat perekonomian tidak berada pada posisi yang adil bagi masyarakat. Misalnya saja, pedagang kecil semakin terpinggirkan serta sulit mendapat pinjaman dan pedagang bermodal besar yang kemudian bisa bertahan serta mudah mendapat pinjaman, konsumen banyak ditipu dan masyarakat banyak yang dirugikan akibat etika bisnis yang tidak dijalankan dengan baik.

Etika bisnis yang luar biasa juga diperlihatkan oleh Muhammad SAW dalam menghadapi perjanjian Hudaibiyah, sekali lagi, yang dirasa paradoks oleh kaum muslimin (termasuk Umar bin Khaththab) namun diimplementasikan oleh Muhammad SAW. Kelak keputusan Muhammad SAW ini yang semakin memperkuat barisan umat Islam. Keputusan Muhammad SAW ini adalah sebuah keputusan strategis bagi perkembangan Islam selanjutnya. Dalam perjanjian Hudaibiyah, penduduk yang datang dari Mekah ke Madinah bisa dikembalikan lagi ke Mekah, dan penduduk yang datang dari Madinah menuju Mekah tidak bisa dikembalikan ke Madinah. Muhammad SAW menerima dan melaksanakan perjanjian ini karena melihat peluang strategis akibat implementasi perjanjian tersebut.

Implementasi manajemen strategis lain yang dilakukan oleh Muhammad adalah menjalani kepemimpinan strategis, dalam memimpin ia mendengar dan menerima pendapat dari kaum muslimin terhadap berbagai masalah dan kemudian memutuskannya. Tradisi ini diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin. Salah satu peristiwa yang cukup diingat sejarah adalah ketika Muhammad SAW meminta masukan tentang upaya melindungi Madinah dari serangan kaum kafir Mekah. Salman Al Farisi kemudian tampil dengan ide cemerlang, melindungi Madinah dengan parit. Sejarah mencatat terjadi perang Khandaq antara kaum muslimin Madinah dengan kaum kafir Mekah dimana kaum muslimin melindungi dirinya dengan parit.
 
Implementasi manajemen strategis berikutnya yang dilakukan Muhammad dalam perjuangan hidupnya adalah membangun kompetensi inti kaum muslimin. Dalam manajemen strategis, kompetensi inti biasanya terkait dengan kemampuan atau keahlian. Kompetensi inti yang dibangun Muhammad adalah penguatan fondasi pemahaman keislaman dan pembinaan diri yang berkelanjutan. Maka tidak heran bila setelah masuk ke dalam Islam banyak sahabat yang menorehkan prestasi besar peradaban, seperti Umar bin Khaththab, yang pernah mengubur anak perempuannya pada masa jahiliyah namun menjadi pemimpin yang sangat bertanggung jawab kepada rakyatnya setelah ia masuk ke dalam Islam. Pembangunan kompetensi inti ini dipimpin langsung oleh Muhammad SAW. Berbagai potensi yang muncul dari sahabatnya dan kaum muslimin kelak diaktualisasikan kepada posisi-posisi kenegaraan dan kemasyarakatan yang ada dengan mengacu kepada kompetensi inti. Kompetensi inti ini yang membuat orang seperti Umar bin Khaththab bersikap amanah. Demikian juga sahabat yang lain. Kompetensi inti ini yang sekarang hilang dari umat Islam, digerus oleh materialisme dan sekulerisme.
Etika bisnis yang tinggi, kepemimpinan strategis, dan membangun kompetensi inti telah dilakukan oleh Muhammad SAW yang tidak bisa membaca, namun memiliki kecerdasan dan akhlak yang mulia. Keberhasilan Muhammad SAW menyampaikan Islam dalam sudut pandang ilmu manajemen adalah mengimplementasikan manajemen strategis. Kaum kafir yang memusuhi Muhammad SAW telah begitu banyak menyusun rencana strategis melenyapkan Muhammad SAW, keluarganya, kaum muslimin dan ajaran Islam. Namun karena Muhammad SAW juga mengimplementasikan manajemen strategi (yang langsung dibimbing oleh Allah SWT) akhirnya bisa memenangkan pertarungan dengan membangun kompetensi inti yang sangat bagus, sehingga Allah menyatakan bahwa Kamu adalah umat terbaik, yang menyeru kepada kebaikan dan mengajak meninggalkan kemungkaran.
 
Ketika terjadi penaklukan Mekah oleh kaum muslimin, sebagai pemenang perang Muhammad SAW berhasil meniadakan pertumpahan darah. Kaum kafir yang berada di ujung tanduk begitu senang bahwa ternyata Muhammad SAW tidak membunuh mereka. Akibat dari kebijakan ini, banyak penduduk Mekah yang kemudian masuk ke dalam Islam. Nilai (value) yang telah ada di diri Muhammad sebenarnya telah diketahui oleh kaum kafir Mekah. Namun ketika mereka melihat sendiri bagaimana Muhammad SAW memperlakukan mereka sewaktu kalah perang, akhirnya mereka mengakui nilai-nilai Islam yang dibawa Muhammad SAW.
Kemenangan Muhammad dalam penaklukan Mekah tanpa pertumpahan darah membuktikan bahwa Islam begitu menghormati manusia dan bukan haus darah yang selama ini banyak dihembuskan oleh pihak-pihak Barat. Karena kenyataannya justeru darah umat Islam yang banyak tumpah pada hari ini.
Bahwasanya kehidupan Muhammad bukanlah kehidupan yang biasa saja, akan tetapi beliau menerapkan manajemen strategis dalam perjuangan hidupnya dalam menyampaikan Islam bersama sahabatnya dan kaum muslimin. Ini sesuai dengan sunatullah, setiap suatu keberhasilan disertai dengan kerja keras dan pemikiran yang cerdas.
Kita yang hidup saat ini bisa mengambil pelajaran dari kehidupan Muhammad SAW. Kita sebagai bagian dari umat Islam menginginkan umat menjadi maju, sejahtera dan berperadaban tinggi. Ini perlu didorong dengan menjalani manajemen strategis, tidak bisa asal berjalan saja. Manajemen strategis adalah alat bantu yang sangat berharga bagi para pemimpin umat untuk membawa umat kepada kehidupan lebih baik yang diridhoi oleh Allah SWT, dimana keadilan ditegakkan dan nyawa manusia sangat dihargai.
 
Muhammad SAW dalam 23 tahun masa kenabiannya telah melakukan perombakan besar tatanan kehidupan manusia. Muhammad SAW telah berhasil menunjukkan kepada dunia indahnya syariat Islam. Al Ghazali menyebutkan bahwa tujuan utama syariat adalah mendorong kesejahteraan manusia yang terletak pada perlindungan kepada keimanan, kehidupan, akal, keturunan, dan kekayaan mereka. Masih menurut Al Ghazali, apa pun yang menjamin terlindungnya lima perkara ini akan memenuhi kepentingan umum dan dikehendaki.
Berbagai peristiwa dalam kehidupan Muhammad SAW telah dikaji oleh berbagai pakar berbagai bidang ilmu. Dari perspektif ilmu manajemen, Muhammad SAW telah mengimplementasikan manajemen strategis dalam kehidupannya menyampaikan Islam dan memimpin umat serta menjadi suri tauladan yang mengagumkan. Sudah sepatutnya pula para pemimpin umat mengimplementasikan manajemen strategis dalam mengajak umat kembali kepada ajaran Islam yang mulia dan menjadi rahmat untuk seluruh alam.
Dimuat di Republika Selasa 25 Maret 2008 dengan judul Manajemen Muhammad SAW



Minggu, 16 Desember 2007

Menatap SDM Indonesia Tahun 2008

Oleh Erwin FS



Kita bersyukur bahwa saat ini di tengah berbagai kondisi yang kurang menguntungkan masih ada harapan yang bisa diwujudkan untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Hal itu adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang diamanahkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
 
Meskipun semenjak krisis, kondisi ekonomi masyarakat kita belum menunjukkan perbaikan yang berarti, bahkan memunculkan kemiskinan baru akibat inflasi yang tinggi, pembangunan SDM masih terus berjalan.

SDM yang dimaksud di sini adalah generasi muda yang tengah duduk di bangku sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Mereka adalah generasi yang diharapkan mampu merubah kondisi yang ada sekarang menuju kondisi yang lebih baik.

Kita telah melihat dan merasakan bahwa sebelum tahun 2000 banyak penduduk Indonesia yang hanya tamat SD maupun tidak tamat SD dan tidak sedikit yang putus sekolah ketika di bangku SMP. Hal ini jelas akan berdampak buruk bagi masa depan bangsa. Mereka kelak akan menjadi orang tua yang mengasuh anak-anak mereka. Jika mereka hanya tamatan SD dan SMP maka pekerjaan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penghasilanpun tidak bisa diandalkan untuk merubah nasib mereka dan anak mereka. Demikian juga dengan pola pikir mereka, karena pendidikan juga akan membentuk pola pikir ke arah yang lebih baik.

Untuk itu mulai milenium ketiga ini, pemerintah telah menganggarkan biaya pendidikan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama gratis. Kebijakan ini telah memberi harapan baru bagi masyarakat Indonesia yang masih mengalami kesulitan ekonomi. Sosialisasi yang gencar dilakukan di media telah memberi respon positif akan keberadaan program pendidikan gratis untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.  
Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menentapkan target siswa yang mengikuti pendidikan sekolah dasar pada tahun 2008 sebesar 29,75 juta jiwa. Sementara penduduk yang berusia antara 7-12 tahun sendiri berjumlah 26 juta jiwa. Ini berarti ada siswa yang menjadi target tapi usianya berada di luar usia sekolah dasar.

Sementara untuk SMP, jumlah penduduk yang berumur 13-15 tahun adalah 13,32 juta jiwa dimana jumlah siswa ditargetkan 12,75 juta jiwa. Hal ini berbeda dengan kebijakan yang ada untuk sekolah dasar yang mentargetkan penduduk di luar usia sekolah dasar. Dan untuk SMA, dari jumlah penduduk usia 16-18 tahun yang berjumlah 12,66 juta jiwa, yang ditargetkan mengikuti pendidikan SMA adalah 7,61 juta jiwa, lebih dari setengahnya. Khusus untuk setingkat SMA, siswa SMK ditargetkan berjumlah 2,68  juta jiwa. Target ini memberikan gambaran bahwa SMK sudah mulai menjadi alternatif bagi mereka yang ingin memasuki pasar kerja lebih cepat dengan memiliki keterampilan tertentu. Disamping itu, ini adalah sebuah gambaran bahwa orang tua dan siswa mulai diajak realistis ketika mereka jika telah menamatkan SMA ada yang tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi, baik secara akademik maupun secara finansial. Dengan melanjutkan ke SMK, mereka akan lebih berdaya dan menemukan kondisi yang lebih realistis untuk kehidupan mereka. Namun kendala yang ada di SMK adalah kondisi alat-alat atau mesin yang masih belum diperbarui sesuai dengan kondisi terkini dunia industri. Tentunya kendala ini bisa menjadi perhatian pemerintah untuk memberikan bantuan kepada SMK guna mengikuti perkembangan dunia industri.  

Dengan melihat hal di atas, maka bisa disimpulkan bahwa pemerintah memprioritaskan pendidikan sekolah dasar dan kemudian sekolah menengah pertama untuk diikuti oleh sebanyak mungkin penduduk yang berada pada usia jenjang pendidikan tersebut. Jika target tersebut bisa dipenuhi dengan baik, maka akan ada harapan munculnya generasi yang lebih terdidik untuk mengisi pembangunan di Indonesia. Dengan pola pikir yang lebih baik, maka diharapkan akan bisa terbentuk masyarakat yang lebih rasional.  

Bagi pasar tenaga kerja, struktur yang ada di pasar menjadi semakin lebih beragam. Mulai tamatan SMP, SMA dan SMK serta perguruan tinggi akan mengisi pasar tenaga kerja. Dengan demikian, diharapkan sudah tidak ada lagi tamatan SD yang mengisi pasar tenaga kerja domestik. 
Bagi tenaga kerja wanita yang diasumsikan minimal tamatan SMP, hal ini jelas akan menaikkan posisi tawar mereka dan juga mereka telah memiliki pola pikir dan intelektualitas yang lebih baik. Dengan demikian mereka bisa lebih bertindak rasional dan peka terhadap lingkungan mereka. Disamping itu, salah satu kewajiban mereka sebagai ibu bagi anak-anak mereka bisa dilakukan dengan lebih baik jika pendidikan mereka sudah lebih tinggi.

Ekonomi 2008
Ekonomi Indonesia pada tahun 2008 diramalkan belum masih menggembirakan. Hal ini bisa dilihat dari fluktuasi harga minyak dunia yang masih berada pada kisaran harga tinggi sehingga berpengaruh terhadap jalannya perekonomian. Kebijakan untuk mengurangi bensin bersubsidi adalah dampak dari kenaikan harga minyak dunia yang memberatkan APBN. Harga-harga yang mulai naik semenjak akhir lebaran akan semakin memberatkan beban masyarakat. Bagi masyarakat berpendapatan rendah ke bawah kondisi ini akan mempengaruhi kehidupan ekonomi mereka. Untuk itu, anggaran pendidikan diharapkan tidak terpengaruh sehingga hak warga negara untuk menikmati pendidikan terutama sekolah dasar dan sekolah menengah pertama tetap bisa dinikmati.

Disamping itu, menjelang tahun 2009, suhu politik kemungkinan akan semakin tinggi. Suhu yang tinggi ini juga diharapkan tidak mempengaruhi kebijakan pemerintah untuk menyediakan pendidikan dasar yang baik kepada masyarakat.  

Kendala, Solusi dan Harapan
Kendala untuk menyediakan pendidikan yang baik bagi masyarakat adalah masih banyaknya mereka yang putus sekolah meskipun kebijakan pendidikan gratis bagi masyarakat pada level sekolah dasar dan sekolah menengah pertama sudah berjalan. Sebagian besar mereka adalah penduduk miskin yang tidak memiliki data atau administrasi kependudukan sehingga mereka tidak bisa mendapatkan hak mereka. Disamping itu, orang tua mereka masih sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga untuk menyediakan dana operasional untuk sekolah anak mereka masih terkendala.   
Kendala dari pemerintah juga ada, mengingat keterbatasan dana yang belum mencapai 20 persen dari anggaran. Namun, kendala dari pemerintah masih bisa disiasati, asalkan anggaran yang sudah ada sebelumnya tidak dikurangi untuk pendidikan gratis. Yang terberat justru kendala yang berasal dari masyarakat berupa ketidakmampuan menyediakan biaya operasional sekolah anak mereka di luar bantuan dari pemerintah. Apalagi jika subsidi untuk premium dikurangi. Selama ini kenaikan harga BBM karena pengurangan subsidi telah menyebabkan semakin menurunnya pendapatan riil masyarakat dan juga efek multipliernya sangat luas.    

Barangkali pemerintah perlu mempertimbangkan lagi pemberian bantuan langsung tunai (BLT) kepada keluarga miskin agar mereka bisa menggunakan uang tersebut untuk membantu biaya operasional sekolah anak mereka. Meskipun ada temuan penyalahgunaan penggunaan BLT, tetap masih banyak keluarga miskin yang menggunakan bantuan tersebut untuk kebutuhan mereka. Orang tua umumnya ingin agar anak mereka bisa sekolah setinggi-tingginya, termasuk orang tua yang berasal dari keluarga miskin.  

Kembali kepada pembangunan SDM Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 telah mengamanatkan bahwa sistem pendidikan nasional adalah sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Semakin banyak penduduk yang bisa menikmati pendidikan dasar akan semakin membuka mata hati mereka akan masalah keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia. Saat ini genetika sosial masyarakat tengah dihinggapi disorientasi sosial sehingga kesalehan pribadi dan kesalehan sosial tidak bisa berkembang dengan baik. Pendidikan adalah jalan untuk meningkatkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Pola pikir yang terbentuk dari mengikuti pendidikan adalah pola pikir yang lebih rasional dan intelektual sehingga hal ini bisa memajukan peradaban. Disamping itu, makna demokrasi akan lebih baik bila rakyat mendapat pendidikan yang lebih baik.   

Menutup tulisan ini penulis mengutip Al Quran Surat Al Alaq ayat 3 yang artinya, ”Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah”. Membaca adalah salah satu aktivitas dalam proses pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin banyak yang ia dapat baca. Semakin banyak yang bisa dibaca seseorang maka kelak ia akan tahu bahwa Allah adalah yang Paling Pemurah sehingga hal ini bisa memberikan nilai positif bagi dirinya dan masyarakat. Semakin banyak orang yang memahami bahwa Allah adalah yang Paling Pemurah maka akan semakin tinggi peradaban yang terbentuk. Dan tahun 2008 sangat menentukan kemajuan SDM Indonesia untuk periode selanjutnya. Dengan berbagai peristiwa ekonomi yang kurang menggembirakan bagi masyarakat, menjadi tantangan tersendiri dalam kebijakan anggaran untuk pendidikan. 

Jakarta, 16 Desember 2007



Kamis, 06 September 2007

Menghadapi Ramadhan Tahun Ini

Oleh Erwin FS

Umat Islam insya Allah akan menjalankan ibadah puasa tahun ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini bulan Ramadhan akan dijalani oleh umat Islam dengan segala keprihatinan, meskipun tahun-tahun sebelumnya tetap relatif prihatin juga. Hal ini bisa dilihat dari berbagai peristiwa yang terjadi satu tahun belakangan ini, terutama semenjak bulan Ramadhan tahun lalu.
Harga-harga yang naik menjelang Ramadhan 1428 H sangat mempengaruhi masyarakat dalam kehidupan keseharian mereka. Harga minyak goreng, susu, minyak tanah yang naik cukup signifikan ramai diberitakan di media. Tarif jalan tol yang meskipun terasa bagi mereka yang memiliki mobil, tetap akan berpengaruh bagi masyarakat luas ketika membayar ongkos angkutan umum yang menggunakan jalur jalan tol.

Di samping itu, kasus-kasus yang menimpa tenaga kerja Indonesia sudah sedemikian menyedihkan. Penyiksaan terhadap mereka belum mendapat pembelaan yang seharusnya diberikan oleh pemerintah kepada rakyatnya. Padahal mereka membawa devisa bagi negara. Demikian pula perlakuan terhadap salah seorang wasit karate Indonesia yang tengah berada di Malaysia. Hal ini menggambarkan adanya perlakuan yang tidak manusiawi terhadap orang Indonesia di Malaysia yang telah berlangsung lama, terutama terhadap para tenaga kerja ataupun yang dicurigai sebagai pendatang ilegal.

Menjelang Ramadhan, dari tahun ke tahun kenaikan harga yang begitu tinggi seolah-olah menjadi suatu kelaziman. Padahal jika pemerintah rajin turun ke pasar, harga-harga barang bisa dinormalkan. Inflasi di Indonesia yang bepengaruh bagi masyarakat adalah masalah sektor riil, hanya saja penanganannya lebih kepada sektor moneter sehingga kenaikan harga barang menjelang Ramadhan mejadi suatu kelaziman. Momentum Ramadhan dan Idul Fitri senantiasa menjadi babak awal munculnya harga baru bagi barang-barang konsumsi. Idul Fitri menjadi antiklimaks bagi banyak masyarakat karena setelah merayakannya dan lupa sesaat dengan himpitan hidup, mereka dihadapkan dengan kondisi keseharian yang semakin sulit.

Bagi banyak masyarakat, keindahan dan kekhusyukan Ramadhan masih sulit dirasakan karena pola konsumsi yang meningkat dan cenderung eksploitatif ketika melakukan buka puasa. Tidak sedikit yang memaksakan konsumsi di bulan Ramadhan lebih istimewa dimana pada saat yang bersamaan banyak orang yang berbuka dengan air putih dan kesederhanaan serta keprihatinan yang sulit dienyahkan. Bukan karena keinginan ataupun pasrah kepada nasib, tetapi belum berjalannya distribusi pendapatan secara baik.

Ramadhan tahun ini adalah tahun ke sepuluh krisis ekonomi yang belum berakhir. Fakta di lapangan, masih sangat banyak orang yang belum mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Kendati pembelian sepeda motor meningkat, hal ini belum bisa menjelaskan banyaknya anak-anak yang putus sekolah maupun orang tua yang kesulitan membiayai anaknya.

Sementara, kesenjangan antara orang miskin dan yang mampu semakin melebar dan menciptakan kondisi yang tidak sehat. Di media, banyak diberitakan murid sekolah dasar yang bunuh diri karena malu tidak bisa membayar buku atau SPP. Ada juga yang tidak sekolah lagi karena sering diejek sebagai anak tukang bakso, tukang becak dan sederet “pekerjaan orang miskin lainnya”.

Angka putus sekolah pun cukup tinggi. Berdasarkan data Depdiknas RI tahun 2006, masih ada 1,9 juta anak usia 13 – 15 tahun yang tidak mendapatkan pelayanan pendidikan SMP. Sementara ada 272 ribu anak yang putus sekolah SMP.

Dan tahun ini, diprediksi umat Islam akan menjalani ibadah puasa layaknya kegiatan tahunan. Bagi mereka yang mampu, hidangan berbuka dijamin selalu ada. Sementara bagi yang sehari-harinya sulit, hidangan berbuka sudah sangat berharga bila bisa meminum air putih dan makan nasi. Sementara penghargaan kepada orang yang berpuasa sudah semakin luntur, jika melihat berjalannya ibadah puasa tahun lalu. Orang bebas makan dan minum di tempat umum. Toko dan warung makan juga banyak yang tidak melindungi tempatnya agar orang luar tidak mudah melihat ke dalam.

Bagi ibu-ibu, belanja di bulan Ramadhan akan meningkat, meskipun makan hanya dua kali sehari. Hal ini tidak bisa disalahkan. Hanya saja, makna Ramadhan akan semakin menjauh. Puasa mengajarkan orang untuk berempati, berbagi dan beraksi. Berempati, karena masih ada orang yang belum pasti makan apa di waktu sahur dan makan apa di waktu buka. Berbagai, karena setelah berempati, akan muncul keinginan untuk berbagi. Dan beraksi, karena sempati dan berbagi perlu diikuti dengan aksi.

Hanya di bulan Ramadhan saja, seluruh orang yang mampu diajak merasakan kesulitan orang yang tidak mampu. Dan hanya di bulan Ramadhan, Allah langsung memberi penilaian kepada hamba-hambaNya. Tentunya, hal ini perlu diterjemahkan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dengan tepat sehingga tercipta kebijakan yang bisa membantu orang miskin.

Para pengambil keputusan yang menjalani puasa, seharusnya bisa merasakan masih banyak rakyat yang masih sulit untuk makan nasi ataupun makan dengan layak, sehingga kebijakan yang mereka ambil betul-betul bisa mensejahterakan rakyat. Para pengambil keputusan sudah seharusnya turun ke bawah, berbuka puasa bersama orang-orang tidak mampu, agar hati mereka kembali terasah akan kepedulian sosial.

Sepuluh tahun semenjak krisis adalah masa transisi, dan kemungkinan masa transisi ini akan berlanjut sepuluh tahun lagi jika kondisi yang terjadi masih seperti ini. Ramadhan pun menginjak tahun ke sepuluh setelah krisis. Dan setiap Ramadhan, bekas jejak-jejak orang yang berpuasa belum menunjukkan perubahan yang berarti.

Pemerintah, seharusnya bisa memunculkan inovasi ketika menjalani ibadah puasa. Seharusnya mereka bisa lebih memiliki sensitifitas yang tinggi ketika berpuasa, sehingga yang ada di dalam pikiran mereka adalah bagaimana menolong rakyat yang masih banyak menjalani “puasa” ketika Ramadhan sudah berlalu.

Pemerintah seharusnya lebih peka lagi ketika menghadapi hari raya Idul Fitri. Para pengambil keputusan biasanya melakukan open house dan silaturahim antar sesama mereka. Itu adalah hal yang lazim terjadi. Namun, cobalah melihat Rasulullah ketika beliau menghadapi hari Raya Idul Fitri dimana sudah tidak ada lagi Abu Thalib dan Khadijah, dan kemudian mendapati seorang anak yang tidak bisa menikmati hari raya ketika teman-temannya bisa bergembira. Rasulullah akhirnya tahu bahwa sang anak sudah tidak memiliki ayah dan ibu sehingga hari raya tidak ada tempat untuk bergembira dan kemudian anak tersebut dikabarkan bahwa Rasulullah siap menjadi orang tua bagi sang anak. Maka, betapa gembiranya anak tersebut.  

Kondisi sebagian rakyat adalah seperti yang tergambarkan dalam cerita di atas. Rakyat adalah anak yang selama ini kehilangan orang tua mereka. Mereka tidak bisa bergembira dan merasa sedih. Di hari raya Idul Fitri, ketika para pengambil keputusan bisa bersilaturahim dengan keluarga maupun kolega mereka, rakyat hampir sebagian besar belum bisa merayakan kemenangan yang hakiki dari keberadaan mereka sebagai warga negara yang berhak mendapat perlindungan dan bantuan. Kondisi ini akan terus berjalan sehingga apatisme muncul dari rakyat.

Berbagai hikmah yang seharusnya bisa diambil dari pelaksanaan puasa Ramadhan, selalu terbuang sia-sia. Ramadhan setengah bulan pertama biasanya selalu ramai dengan aktivitas sholat jamaah dan taraweh. Setengah bulan berikutnya shaf-shaf sholat berjamaah semakin berkurang, kesibukan terkonsentrasi pada persiapan menghadapi hari raya. Itu pun bagi mereka yang telah ada persiapan sebelumnya. Sementara di belahan bumi lain, hari raya adalah hari yang sekedar dilalui karena tidak ada yang bisa dipersiapkan untuk hari raya. Harga-harga barang yang tinggi di bulan Ramadhan akan semakin naik hingga puncaknya pada hari raya. Sementara banyak masyarakat yang masih kesulitan memikirkan sekolah anaknya, dan bahkan untuk kebutuhan harian pun belum bisa terjangkau dengan baik.

Inilah prediksi dan juga sebagian fakta yang ada saat ini. Bagi umat Islam yang beruntung mengenyam hingga pendidikan tnggi dan mendapat kelebihan materi, mereka adalah agen perubah untuk umat Islam secara keseluruhan yang bisa memainkan peran besar mengubah kondisi umat, terutama memberdayakan potensi sumber daya manusia muslim. Jangan biarkan umat menjalani Ramadhan dengan pola pikir yang konsumtif, sampaikan kepada mereka betapa nikmatnya melakukan ibadah di bulan Ramadhan, dan Idul Fitri adalah titik tertinggi dari ibadah selama Ramadhan dan bukan sekedar baju baru maupun kue-kue dan minuman.Untuk mewujudkan hal ini, perlu dipersiapkan sumber daya manusia yang handal dan tangguh agar bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang ada pada umat Islam.    

Jakarta, 6 September 2007

Minggu, 26 Agustus 2007

Penanganan Kemiskinan Berbasis SDM

Oleh Erwin FS


Dalam pidato Presiden yang disampaikan di depan anggota DPR RI 16 Agustus lalu, pemerintah menargetkan penerimaan dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja  negara (RAPBN) 2008 sebesar 761,38 triliun rupiah, dimana penerimaan dari pajak direncanakan sebesar 583,67 triliun rupiah dan penerimaan bukan pajak direncanakan sebesar 175,64 triliun rupiah. Sementara anggaran belanja direncanakan berjumlah 836,41 triliun rupiah.

Rabu, 15 Agustus 2007

Human Capital Muslim

Oleh Erwin FS



Pemikiran mengenai manusia sebagai pelaku utama perubahan ekonomi di suatu negara didukung oleh teori human capital. Teori human capital menunjukkan bahwa hasil dari investasi pendidikan memiliki tingkat pengembalian sosial yang jauh lebih tinggi dibandingkan investasi berupa pembangunan fisik.

Selasa, 26 Desember 2006

Menatap 2007

Oleh Erwin FS

Tahun 2007 telah berada di depan mata. Sementara kondisi ekonomi bangsa masih belum bangkit dari krisisnya. Hampir 10 tahun semenjak krisis moneter, Indonesia belum bisa memberikan kesejahteraan untuk rakyatnya secara baik. Memang ada beberapa pencapaian di beberapa bidang kehidupan, namun belum mampu mendorong terjadinya perbaikan kesejahteraan rakyat secara signifikan. Perbaikan makroekonomi memang terjadi, namun umumnya hanya menyenangkan beberapa kelompok saja, meskipun diakui kondisi makroekonomi yang membaik mendukung upaya pemerintah menata ekonomi.  

Recent Post

Dilema Inklusi Keuangan di Indonesia

Oleh Erwin FS Bank Dunia merilis data terkait inklusi keuangan (Kompas, 17/4/2015), pada rentang 2011-2014 700 juta orang di dunia men...

Popular Post