Oleh Erwin FS
Nabi
Muhammad SAW bersabda saat terjadi perang Khandaq (Ash-Shalabi, 2008),
“Konstatinopel akan ditaklukkan di tangan seorang laki-laki. Maka
orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan
tentaranya adalah sebaik-baik tentara” (HR Ahmad). Apa yang disampaikan
Nabi Muhammad SAW ini terbukti sekitar 800 tahun kemudian.
Nabi
Muhammad SAW menyebut penaklukan Konstatinopel ini kepada para sahabat
dan kaum muslimin pada waktu itu, bermakna ada hal yang istimewa
terjadi dengan penaklukan tersebut. Di dalam hadits yang telah
disebutkan, ada sebutan ‘sebaik-baik penguasa’ dan ‘sebaik-baik
tentara’. Dan kedua hal itu kelak ada di diri Sultan Muhammad Al Fatih
dan pasukannya yang berasal dari Bani Utsmani.
Lord
Kinross mengutip Bertrand de Broquiere, seorang pengembara yang
menyatakan, “Pasukan Utsmani sangat cepat gerakannya. Seratus pasukan
musuh akan jauh lebih gaduh dari sepuluh ribu pasukan Utsmani. Dalam
semalam mereka mampu melakukan tiga kali lipat perjalanan yang dilakukan
oleh musuh-musuhnya” (Ash-Shalabi, 2008).
Semenjak
wafatnya Rasulullah SAW, setiap orang selalu bertanya-tanya, siapa
yang bisa melaksanakan sabda Rasulullah SAW tersebut. Semenjak era
kehalifahan Bani Umayyah di tahun 44 Hijriah sudah dilakukan usaha untuk
menaklukan Konstatinopel. Kemudian berlanjut di masa kekhalifahan Bani
Abbasiyah. Hingga kemudian Konstatinopel bisa ditaklukkan oleh Sultan
Muhammad Al Fatih yang merupakan khalifah Bani Utsmani pada tanggal 29
Mei 1453 Masehi atau 20 Jumadil Ula 857 Hijriah, sekitar 800 tahun
setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Pada
masa itu, Konstatinopel merupakan salah satu kota terbesar dan
terpenting di dunia. Konstatinopel dibangun pada tahun 330 Masehi.
Muncul ungkapan, “Andai kata dunia ini berbentuk satu kerajaan, maka
Konstatinopel akan menjadi kota yang paling cocok untuk menjadi ibu
kotanya” (Mushtafa dalam Ash-Shalabi, 2008).
Sultan
Muhammad II atau Sultan Muhammad Al Fatih memegang jabatan pada umur
22 tahun. Pada usia muda ia telah mengungguli teman-temannya dalam
menangkap dan menyerap ilmu pengetahuan. Ia menguasai manajemen dan
administrasi negara, penguasaan medan dan strategi perang. Ia melakukan
restrukturisasi administrasi negara dan keuangan negara. Pembelanjaan
dilakukan secara efektif dan efisien untuk mencegah terjadinya
pemborosan dan pembobolan uang negara. Ia juga berkonsentrasi
meningkatkan kepiawaian pasukan, melakukan restrukturisasi tentara,
memberikan tambahan gaji pada tentara dan melengkapi persenjataan
terbaik di zamannya (Ash-Shalabi, 2008).
Di
samping itu, Muhammad Al Fatih menjalani didikan oleh ulama dengan
baik. Ia mengikuti didikan dari ulama sejak kecil. Guru-gurunya memiliki
kebersihan hati hingga mampu menjadikan Sultan Muhammad II mendapatkan
pengalaman relijius yang sangat baik. Salah seorang gurunya yang
berpengaruh adalah Rabbani Ahmad bin Ismail Al-Kurani. Hingga Muhammad
Al Fatih menjadi pemimpin, Al Kurani tidak pernah menundukkan kepala
maupun mencium tangan Muhammad Al Fatih, bahkan memanggil dengan nama
asli, bukan gelar. Sementara gurunya yang lain Syaikh Aaq Syamsuddin
telah menanamkan kepada Muhammad Al Fatih sejak kecil bahwa yang
dimaksud oleh Hadits Nabi Muhammad SAW tentang penakluk Konstatinopel
adalah dirinya (Ash-Shalabi, 2008).
Dengan
harapan bahwa yang dimaksud oleh Hadits Rasulullah SAW itu adalah
tentaranya, maka Muhamad Al Fatih meningkatkan dan memperkuat jumlah
tentaranya. Pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan kemahiran
menggunakan senjata sangat diperhatikannya. Di samping itu tentarannya
juga dibekali semangat keIslaman dan selalu disampaikan tentang Hadits
Nabi Muhammad SAW mengenai sebaik-baik tentara. Muhammad Al Fatih
mengerahkan banyak ulama untuk meninggikan moralitas keIslaman
pasukannya. Muhammad Al Fatih telah memadukan infrastruktur perang yang
mutakhir dan strategi canggih dengan moralitas keIslaman yang tinggi
pada pasukannya.
Pada
masa itu, Konstatinopel secara militer merupakan kota yang paling aman
dan terlindungi. Ia memiliki benteng yang kuat dan perlindungan secara
alami. Sangat sulit untuk menaklukkan kota tersebut. Hingga salah satu
titik lemah tersebut berhasil ditembus oleh Sultan Muhammad Al Fatih
secara mengejutkan.
Salah
seorang ahli sejarah tentang Byzantium (Konstatinopel) menyatakan,
“Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya,
sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih telah
mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di
puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang. Sungguh
perbuatannya ini jauh melebihi apa yang dilakukan oleh Iskandar yang
Agung” (Ash-Shalabi, 2008). Pada waktu itu, Muhammad Al Fatih
memindahkan kapal-kapal perangnya melalui daratan, sesuatu yang belum
pernah terjadi di masa itu. Ini adalah titik awal menjelang takluknya
Konstatinopel.
Tanggal
29 Mei 1453 Masehi, Sultan Muhammad Al Fatih berhasil memasuki
Konstatinopel. Seluruh masyarakat di kota tersebut diperlakukan dengan
baik. Mereka dipersilakan melakukan kegiatan keagamaan maupun
kesehariannya. Tidak ada pembunuhan massal. Uskup Agnadius dan
uskup-uskup yang diundang makan oleh Sultan Muhammad Al Fatih, setelah
bertemu dengan Sultan mendapatkan persepsi berbeda yang selama ini ada
tentang Sultan. Mereka merasa berhadapan dengan seorang sultan yang
demikian terdidik dan berperadaban, seorang ksatria sejati yang membawa
nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Sebelumnya sudah terbayang akan
terjadi pembunuhan massal oleh tentara Utsmani. Dan dalam hitungan hari
sejak ditaklukan, Konstatinopel telah melakukan kegiatan sehari-hari
sebagaimana biasa.
Pelajaran
yang bisa diambil dari peristiwa ini adalah, bahwa bagi seorang muslim
agar bisa berhasil kehidupannya tidak lain mencontoh apa yang telah
dilakukan oleh Rasulullah SAW. Pembinaan pribadi muslim yang berhasil
adalah memadukan kemampuan intelektual, fisik dengan semangat keIslaman
yang tinggi. Sultan Muhammad Al Fatih dan tentaranya telah mengikuti
apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Termasuk memperlakukan
penduduk di daerah penaklukan dengan baik dan menghormati hak-hak
mereka. Tidak terjadi pembunuhan massal seperti yang dibayangkan oleh
penduduk Konstatinopel, bahkan Muhammad Al Fatih dan tentaranya
memperlakukan manusia di sana dengan baik, hormat dan santun.
Meskipun
sudah lebih dari 500 tahun lalu terjadi, peristiwa penaklukkan
Konstatinopel sungguh sangat berharga bagi umat Islam untuk mempelajari
berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya, terutama bagaimana
membentuk sumberdaya manusia yang unggul dengan memperhatikan aspek
spiritualitas.
Saat
ini begitu banyak umat Islam melupakan aspek spiritualitas mereka
sehingga kualitas kehidupan terasa kurang menggembirakan. Jauh dari
ajaran agama, hanya berlomba mencari kehidupan dunia. Nabi Muhammad SAW
telah meninggalkan Al Quran dan Sunnah yang berisi pembinaan sumberdaya
manusia yang unggul. Siapa saja yang mengikuti metode tersebut, insya
Allah akan mendapatkan kebaikan dan kesuksesan.
Meskipun
saat ini umat Islam berjarak 1400 tahun lebih dengan kehidupan Nabi
Muhammad SAW, pola pembinaan sumberdaya manusia tetap bisa diikuti
dengan berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah. Sultan Muhammad Al Fatih
yang hidup 800 tahun sejak hijrah Rasulullah SAW telah membuktikan hal
tersebut bersama rakyat dan tentaranya. Dan kini, dengan kecanggihan
teknologi dan kemudahan hidup, seharusnya kualitas umat Islam bisa jauh
lebih baik dan unggul. ۞
29 Mei 2011
Daftar Pustaka
Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Pustaka Al Kautsar, Jakarta: 2008